Kota Sampit Dalam Sejarah

ASAL MULA KOTA SAMPIT

Kota Sampit memiliki sejarah panjang yang sudah tercatat sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dalam kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca yang ditulis tahun 1365, nama "Sampit" sudah disebutkan sebagai salah satu wilayah kekuasaan kerajaan tersebut.

 

Pada masa lalu, wilayah ini dikenal sebagai pusat perdagangan yang ramai karena letaknya yang strategis di tepi Sungai Mentaya (dalam bahasa Dayak Ot Danum disebut Batang Danum Kupang Bulan). Sungai ini menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan hasil bumi seperti rotan, karet, dan gambir.

Asal usul nama "Sampit" hingga kini masih menjadi perdebatan, namun ada beberapa versi yang paling populer

Nama "Sampit" diyakini berasal dari bahasa Cina yaitu "Sam It" yang berarti angka 31 (Sam = 3, It = 1).

Konon, pada masa lampau datang rombongan 31 orang pedagang Cina yang membuka lahan, membangun pemukiman, dan mengembangkan usaha perkebunan serta perdagangan di daerah ini. Sejak saat itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan "Sampit".

Ada yang berpendapat nama ini berasal dari kata "Sempit". Dahulu, di muara Sungai Mentaya terdapat sebuah pulau kecil bernama Pulau Hanaut yang bentuknya sempit. Penduduk setempat kemudian menyebut daerah tersebut "Sempit", yang lama-kelamaan berubah pelafalannya menjadi "Sampit".

Menurut penjelajah asal Norwegia, Carl Lumholtz, dalam bukunya Through Central Borneo, nama "Sampit" diambil langsung dari nama sungai yang mengalir di wilayah tersebut, yaitu Sungai Sampit.

Sejarah berdirinya kota ini juga penuh dengan peristiwa:

- Tahun 1795-1802: Terjadi perang antara Belanda dan Inggris. Akibatnya, warga Sampit terpaksa mengungsi ke pedalaman (Kota Besi) karena sering diserang bajak laut di muara sungai.

- Tahun 1836: Armada Belanda berhasil mengalahkan bajak laut pimpinan Koe Wardt. Setelah aman, penduduk kembali dan bermukim di daerah Seranau (sekarang Mentaya Seberang).

- Pemindahan Lokasi: Karena menurut kepercayaan Tionghoa, kota sebaiknya menghadap matahari terbit, sedangkan Seranau menghadap barat, akhirnya mereka memindahkan pusat pemukiman ke seberang sungai, yaitu lokasi yang menjadi Kota Sampit sekarang.

Dari sebuah wilayah perdagangan kuno, Sampit kini berkembang menjadi kota besar dan pusat ekonomi penting di Kalimantan Tengah. Nama "Sampit" sendiri menyimpan cerita tentang kedatangan para pendatang, kondisi alam, dan sejarah sungai yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

Sebelum tulisan dipublikasikan kita proofreading,