DUKUH MANGGANA DAN IKAN TAMPAHAS THE LEGEND OF SERUYAN RIVER

 Seruyan merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Kalimantan Tengah yaitu beribukota Kuala Pembuang, Secara geografis berbatasan dengan Kalimantan Barat (yaitu kabupaten Melawi(utara), dan laut Jawa(selatan),dan kotawaringin Timur (barat).Banyak cerita rakyat bisa kita gali terutama kisah legenda sungai Seruyan dan Ikan penunggu sungai Seruyan, berdasarkan cerita zaman dulu bahwa Sungai Seruyan sebelum nya bernama juga sungai Pembuang yang artinya terbuang atau dibuang, konon Sungai Seruyan memiliki penunggu berupa ikan yang cukup legendaris, sebagai penunggu sungai Seruyan, sungai ini memiliki mata air dari bukit Tiku di penggabungan skawaner mengalir menuju pesisir selatan kalimantan dan kemudian bermuara ke perairan laut Jawa. Sisi Timur sungai ini berisi Hutan-hutan lebat sampai ke danau Sembuluh, yang mana hutan ini di huni oleh para orang utan atau monyet. Pembuang artinya tempat untuk membuang, ketika kita melintasi sungai Seruyan atau sungai Pembuang, sungai ini memiliki panjang sekitar 350km dan dapat dilayari sepanjang 300km melalui beberapa kota. Dan rata-rata kedalmelalui 6 meter dan lebar rata-rata 300 meter, adapun cerita tentang sungai Seruyan ini, menurut cerita ada seekor makhluk ghaib sebagai penunggu Sungai Seruyan,atau Sungai Pembuang. Berikut kisahnya "IKAN TAMPAHAS PENUNGGU SUNGAI SERUYAN"Legenda ikan Tampahas sering dikaitkan dengan penomena alam, #angin guntur# dan guntur, yang dipercaya oleh masyarakat setempat yaitu dukuh Manggana sebagai tanda musim ikan raksasa tersebut bertelur, dukuh Manggana tidak banyak yang tau, masuk daerah Bahaur kecamatan Hanau, di mana dukuh tersebut bisa kita lewati melalui jalur sungai dan darat jika musim kemarau. Kehidupan masyarakat dukuh Manggana notabene nya bekerja sebagai nelayan, mereka mencari ikan untuk kebutuhan sehari-hari, selain untuk di makan sendiri juga untuk dijual. Masyarakat dukuh Manggana sangat menghormati ikan Tampahas sebagai sumber pangan penting, Yang mana seekor Raja Tapah yang selalu menjaga kawanan ikan kecil. Ikan Tampahas merupakan ikan predator, bergigi tajam dan berjenggot, nama Latin ikan Tampahas adalah Wallagoni Leerii, yang berukuran besar, Dukuh Manggana adalah sebuah dukuh yang masyarakatnya merupakan nelayan. Suatu hari air sungai coklat keemasan terkena cahaya matahari, seorang ibu sedang turun ke sungai untuk mencuci pakaian di Jamban, Tiba-tiba dia dikejutkan oleh kemunculan seekor ikan Raksasa yang sangat besar, janggutnya sebesar rotan, saking terkejutnya dia melompat naik ke atas, untuk memberi tahu kepada penduduk dukuh Manggana,tentang kehadiran ikan Raksasa tersebut.Sebagian warga merasa takut untuk beraktivitas di Sungai Seruyan sungai Pembuang, karena takut dengan ikan raksasa tersebut. Para tetua adat berkumpul dan bermusyawarah untuk bisa menghalau ikan tersebut, agar tidak mengganggu warga masyarakat di dukuh Manggana,mereka bersepakat untuk membuat ces besar dan alat untuk menyentrum ikan Raksasa tersebut, dengan menggunakan mesin setrum, dengan kapasitas besar.Setelah alat tersebut dipersiapkan, mereka turun ke Sungai untuk mencari keberadaan ikan Raksasa tersebut, hari pertama mereka mencari, namun tidak menghasilkan apapun juga, mereka pulang dengan tangan kosong, dan Hanya mendapatkan ikan2 kecil saja untuk lauk mereka. Keesokan harinya mereka berangkat lagi untuk melakukan penyetruman terhadap ikan raksasa tersebut. Namun hasilnya tetap saja nihil. Pada suatu malam, salah satu dari nelayan yang berniat ingin menangkap ikan tersebut bermimpi, dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang rambutnya putih dan berjanggut panjang. Lelaki tua itupun berbicara "Hai anak muda! Berhentilah untuk menangkap ku, dengan alat mematikan itu, ketahuilah Hai anak muda, aku adalah ikan Raksasa penunggu sungai Seruyan atau sungai Pembuang, aku sudah berumur ribuan tahun, bahkan sebelum manusia lahir, aku diutus untuk menjaga sungai Seruyan baik hilir maupun hulu, agar air sungai Seruyan ini tetap terjaga. Dan aku merupakan nenek moyang dari para ikan Tampahas yang biasa kalian konsumsi. Kalau Kalian masih berniat ingin mengusirku dan membunuhku dari dukuh Manggana ini, maka setelah kepergianku akan ada bala bencana di aliran Sungai Seruyan ini. Maka dari itu berhentilah untuk membuatku menjadi marah. Ambilah ikan-ikan kecil yang bisa kalian konsumsi dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang tidak wajar(manyentrum) kata kakek berjanggut Putih tersebut kepada pemuda itu.Dan ketahuilah, aku adalah makhluk ghaib penjaga tiga Liang yang menghubungkan danau Sembuluh dan daerah-daerah lain, yang berbeda alam kata sang kakek. Lalu hilang tanpa bekas. Pemuda itu terbangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar, dan menceritakan semua mimpinya kepada seluruh masyarakat dukuh Manggana,akhirnya disepakati untuk membiarkan ikan raksasa tersebut menjaga Sungai Seruyan/Pembuang.Masyarakat tetap beraktivitas seperti sediakala, dan pemuda yang bertemu dengan jelmaan ikan Tampahas tersebut masih dalam keadaan sakit keras. Konon dukuh Manggana dikatakan ada seekor gana penjaga Sungai, yang kadang-kadang berubah bentuk seperti Tampahas, Buaya dan sebagainya,Tampahas raksasa akhirnya tetap berada di Sungai Seruyan dan menjaga sungai Seruyan. Pesan moral dalam kisah ini adalah:Jangan mencari ikan dengan cara membunuh ikan dengan setrum atau tiba, karena akan mematikan ikan-ikan kecil. Jagalah ekosistem alam agar kita bisa bertahan hidup. Kita hidup di dunia ini, tentunya berdampingan dengan makhluk lainnya. Jangan sembarangan. 

Komentar

  1. bagus bun.... izin saya parafrase dan publish ke media online. adakah foto foto tentang ini?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI