Raja Lele penjaga terusan sungai Manjul

Sungai manjul merupakan tempat masyarakat yang bermukim di daerah seruyan hulu, di mana mereka beraktivitas, seperti mandi, mencuci, memancing dan menjala ikan di sana. Masyarakat manjul yang terkenal dengan kedamaian, dan ketenteraman.
Tidak jauh dari sungai manjul ada sebuah terusan, konon katanya ada seekor ikan lele Raksasa, sebagai penunggu terusan tersebut. 
 Oleh pemimpin desa itu, masyarakat dilarang untuk memancing di sana, dan menjala ikan. 

Ikan keci-kecilpun tidak nampak hidup di sekitar terusan tersebut.sungai manjul itu terdapat banyak batu-batu yang di sebut dengan riam. Kemunculan sungai-sungai yang ada di tumbang manjul memiliki cerita yang berbeda-beda. 
Berdasarkan cerita orang tua dulu terusan itu bermuara antara sungai manjul dan sungai seruyan. 
Masyarakat tidak berani melanggar larangan damang desa tersebut. Karena kalau berani melanggar bisa jadi akan di mangsa oleh Datuh luh kali, ikan lele raksasa. 
Banyak sekali manusia yang jadi korbannya, bahkan ikan-ikan kecilpun jarang berasa di sana. 
Masyarakat yang hidup dengan damai dan sejahtera, mereka akhirnya ketakutan karena kehadiran Datuh Luh Kali, dengan menteror penduduk manjul,Datuh Luh memangsa ikan-ikan, sampai habis. 
Tak satupun jua manusia berani beraktivitas di sungai manjul seperti biasanya. Manusia pun akan dibabat habis sama Datuh Luh Kali. 

Akhirnya para penduduk tidak pernah lagi menikmati ikan. Mereka berburu binatang dan menanam sayur di ladang, sebagai konsumsi mereka. 
Sebagai pemimpin yang bijaksana, damang merasa sakit hati melihat kejadian ini.beliau sangat khawatir, karena sering kali laporan banyak orang hilang. Hewan ternakpun diembat juga sama Datuh luh kali, jika berani turun ke sungai. 
Malam hari tanpa diterangi oleh bulan, sunyi
senyap hanya ada
cahaya bintang di langit yang sedikit redup
menerangi alam semesta, 
wajah kepala adat desa terlihat gundah.
Beliau begitu khawatir
dengan kondisi warga diteror
Terdengan suara burung hantu saling
bersahutan dari keiauhan
Dinginnya malam mulai merasuki tulang tidak
dihiraukan, 
Tatapannya tertuju ke atas langit mencari
jawaban seraya memohon
petunjuk kepada Allah memperoleh jalan
keluar mengatasi ketakutan
warganya agar tidak ada korban lagi.
Damang tidak pernah tidur sepanjang malam
beliau terus menerus menatap langit, berharap akan ada pertolongan. Hanya suara kokok ayam yang akan mengejutkan beliau bahwa hari sudah pagi.
Dalam kesendiriannya tiba-tiba muncul ide Damang, dia teringat anak tunggalnya Diang Wangi yang sudah beranjak dewasa.
"Aku harus mencari pemuda pemberani yang mampu membunuh
Datuh Lauk Kali sebagai imbalannya maka akan ku nikahkan dengan anakku diah wangi. 
nikahkan dengan Diang Wangi, " gumamnya.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali beliau mengumpulkan para tetua kampung untuk merundingkan masalah melanda desa maka
beliau menyampaikan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan
desa, yaitu mencari orang kuat dan pemberani agar mampu membunuh Datuh Lauk Kali, melalui sayembara yang akan di sebarkan beritanya ke seantero wilayah.
Para tetua yang berkumpul setuju mengenai pemikiran
Damang. Mereka memutuskan untuk membuat sayembara dengan
imbalan bagi yang berhasil membinasakan ikan lele raksasa akan
dijadikan menantu oleh Damang bersanding dengan putrinya
bernama Diang Wangi yang cantik jelita berbau harum. 
berpapasan dengan sang purti maka akan
tercium aroma angrek
hutan yang wangi sekali dari tubuhnya.
Pengumuman sudah tersebar ke desa-desa.
Banyak para
pemuda perkasa datang, ada yang dari
pegunungan maupun dari
seberang lautan. Akan tetapi belum ada satu
orang pemuda yang
mampu mengalahkan Datuh Lauk Kali. Mereka
menyerah, bahkan
ada yang menjadi mangsa ikan raksasa tersebut.
Ada beberapa orang datang dengan maksud
untuk menghalau
Datuh Lauk Kali, namun ketika mendengar
suara bergemuruh dari
dalam air yang sangat kuat hingga membentuk
gelombang besar di
sekitar. Ciutlah nyali para pemuda tersebut
Ada yang lari terbirit-birit. 
Damang merasa sangat sedih atas kegagalan untuk
melenyapkan Datuh Lauk Kali dari sungai, beliau bingung harus
melakukan apalagi. Hingga beliau berpikir untuk pergi menepi saja
melakukan doa disebuah goa berharap akan datang seseorang yang
mampu menghilangkan ketakutan warga dengan menbunuh Datuh Lauk Kali
Suatu hari di sebuah desa hulu Seruyan seorang pemuda gagah
dan tampan paras rupanya melakukan perjalanan jauh dari gunung
melewati kampung Manjul maksud hatinya ingin merantau merubah
nasib menuju ke daerah laut, Ia tidak memiliki ayah dan ibu, mereka meninggal dunia ketika dia masih balita akibat wabah yang melanda kampung.
Pemuda tersebut dipanggil Nole oleh orang di kampungnya.
Nama itu merupakan kebiasaan orang memanggilnya karena berarti
anak yatim piatu. Ia seorang anak yang rajin dan tangkas memainkan tombak. Dengan alat tersebut dapat digunakan untuk mencari dan menangkap Datuh luh kali.
Pagi itu suasana sepi hanya terdengar suara
owa-owa bersahut-
sahutan dari atas pepohanan, kicauan burung
merdu sekali diantara
ranting-ranting mereka begitu riang
menyambut matahari yang mulai
nampak di ufuk timur.
Nole duduk termenung pada sebuah batu besar
di pinggir
sungai Seruyan. Ia merasa heran dalam hati
ia bertanya "Mengapa
dipinggir sungai ini sepi? Kemana saja orang
kampung?" hanya di
desa ini saja menemukan hal begitu aneh
menurutnya,Karena
sesampainya di desa itu masih belum berpapasan dengan satu orang pun. 
Tiba-tiba ia mendengar suara menyambar silih berganti, seperti gelembung-gelembung keluar dari permukaan sungai. 
Oh, 'apakah gerangan yang terjadi di alam sungai ini, kata nole. Lalu bergegas mencari ke kanan dan kiri. Hingga akhirnya dia melihat,banyak sekali ikan yangmenyambar di sela bebatuan besar dengan arus sungai deras.
Dengan sigap mengambil tombak disampingnya
dan melompat menuju batu di tengah sungai, matanya terus mengawasi lalu
secepat kilat tombak diayunkan dan dihujam
ke dasar sungai tepat pada seekor ikan Balida besar terkena tombak.
Nole memang cekatan sekali memainkan
tombaknya, sebagai anak yang sudah tidak memiliki orang tua ia harus pandai menjaga
diri dan pemberani, bersama alam lah
tempatnya belajar memainkan
senjata tombak maupun mandau (golok).menancap di leher Datuh luh kali. M
Tidak perlu waktu lama Nole berhasil
menombak ikan-ikan
besar tersebut. Setelah itu dikumpulkan dan ditusuk pada seutas tali
rotan, iapun lalu naik kedaratan menuju rumah penduduk, 
mengetok rumah mereka lalu membagikan ikan yang diperolehnya kepada semua warga setempa.
Girang sekali penduduk mer ima pemberian ikan, karena sudah
lama tidak pernah menikmati hasil dari sungai oleh takut dengan
Datuh Lauk Kali. Nole pun bertanya, "Mengapa desa ini sepi
kemana saia orang-orang yang berada di desa ini?"
Mereka pun bercerita tentang monster di dalam air yang ganas.Salah seorang berkata "hai, anak muda ketahuilah Damang telah mengeluarkan sayembara untuk membinasakan seekor ikan lele
raksasa. Jika kamu berhasil maka akan disandingkan dengan putrinya yang cantik".
Yang lain pun menyahut dengan sedikit memohon.
"Ayolah! Anak muda bantu kami untuk membinasakan Datuh
Lauk Kali yang jahat itu. Bukankah kamu tadi tidak
dimangsanya?"

sungai Seruyan, ada
kebimbangan muncul dalam pikirannya. Maksud
hatinva ingin pergi
merantau ke laut. Tapi warga memintanya
untuk menerima
savembara tersebut.
"Mohon izin untuk memikirkan permintaan
kalian" kata Nole
kepada orang banyak.
"Silahkan pikirkan satu malam ini, 
meninaplah kamu di desa
kami, " kata Tetua kampung.
Malamnya Nole tidak bisa meme jamkan matanya, 
perasaan
bingung muncul dalam hatinya, "bagaimana ini
sedangkan awal
reartay ke
hon iin
kepada(
kan t
kami, "kita Tetaa kam
Maamava
y aky merart
 meminta
masi behm mendaaaka
u Nnle
Tbartu wnna t
Pagi itu i tuun bagi ke
nenddade
116| CRITAKL
nla RAhat 
Taç öfar -ûra
Ah lah, Saat
dila
ap keoda be
WB 期人
wi dudkk
sngi, Bi
mulanya aku merantau karena ingin pergi
kelaut. Tapi orang-orang
desa meminta untuk membantu menghalau Datuh Lauk Kali yang telah lama meneror penduduk kampung".
Bukan karena sayembara itu jika ia ingin membantu, tapi rasa
kemanusiaan sebagai sesama makhluk ciptaan Allah lah. Saat itu ia
masih belum mendapatkan jawaban atas kebimbangan dalam
memilih langkah selanjutnya. Karena kelelahan maka Nole pun tertidur.
Dalam tidur nyenyaknya ia bermimpi bertemu kembali dengan
Ibunya yang sudah lama tiada. Dengan mengusap-usap kepala beliau
berkata "Nak kamu jangan bimbang lagi, jika ada yang meminta pertolongan darimu bantulah sebisamu". Mendengar suara merdu ibunya Nole terbangun, mecari-cari suara tadi. Namun, tidak menemukannya , " mungkin inilah jawabannya besok harus
membantu warga desa” ucapnya dengan lirih.
Pagi itu ia turun lagi ke sungai duduk kembali di atas sebuah batu besar berada tepat di tengah sungai. Baru saja ia bersila mendadak terdengar suara gemuruh mengema seantero kampung,
Ternyata Datuh Luh Kali keluar dari persembunyiannya.
Datuh Luh Kali mengejar Nole sampai ke hulu, air sungai bergelombang sangat besar sampai
tempat duduk Nole
tengelam oleh air. 
Penduduk ketakutan sekali. Mereka segera lari ke rumahnya .
Tinggal Nole sendiri kebingungan tidak tahu apa yang telah terjadi.
Belum habis kesadarannya ada suara teriakkan
"Di mana
makananku?"" ternyata di tengah sungai ada
seekor ikan lele raksasa
dengan wajah yang marah. "Aku tak mengetahui
kalau ikan-ikan ini
adalah makananmu dan aku juga memintanya
cuma sedikit", jawab
Nole"Hahhh! aku tak perduli, kau telah mengambil makananku, dan
sekarang aku sedang lapar, kau harus menjadi
santapanku hari ini...!ucap Raja Ikan Lele Raksasa itu.Mendengar ucapan Datuh Lauk Kali itu. Nole pun berenangdengan membawa sebuah tombak dan mandau dipinggang menuju
ke arah batu besar pinggir sungai tersebut dan bersiao untuk melakukan perlawanan.
Kemudian, Datuh Lauk Kali datang dari arah belakang, menyambar Nole, namun meleset karena dengan sigap pemuda
tersebut melompat lalu salto ke batu yang lain. Hingga membuat Datuh Lauk Kali terbawa arus air deras hingga ke persimpangan aliran sungai Seruyan dengan sungai Tumbang Manjul.
Nole menepi dengan menaiki sebuah batu yang sangat besar di
pinggir persimpangan sungai. Ia pun berlari ke hulu sungai Seruyan.
Dari kejauhan, Datuh Lauk Kali mengejar dan berusaha menyambar -nya. Tapi Nole tidak tinggal diam, ia mengambil
mandau (golok) yang terikat di pinggang lalu menebas leher Datuh Lauk Kali tetapi hanya kena ekornya saja.
Datuh Lauk Kali sangat marah dan kesakitan, menyerang
kembali Nole dengan ganas, namun Nole siap dengan senjata
tombak di tangan kanan dan mandau di tangan kirinya. Sekalihentakkan tombaknya tepat mengenai kepala
Datuh Lauk Kali
terdengar suara mendesih sangat keras
"auuuuuhhh,. .1"
Datuh Lauk Kali berenang hingga menabrak
tepian sungai
Seruyan, menggesekan badannya sepanjang
daratan vane beruiune
di sungai Tumbang Manjul. Lalu secara
membabi buta mengibaskan
ekornya ke mana saja. Akhirnya, Datuh Lauk
Kali itu pun mati. Sorak
Sorai warga menyaksikan pertempuran antara
ikan raksasa dengan
Nole telah membuahkan kemenangan bagi mereka semua, moster
itu pun tewas.
Senua orang berkumpul merayakan kemenangan
Nole karena
telah berhasil membunuh Datuh Lauk Kali.
Lalu Damang
Nole telah berhasil membunuh lele Raksasa , Damang  mengumumkan kepada semua penduduk mengangkat Nole
menjadi menantunya dengan melakukan pesta perkawinan secara adat dia dengan Diang Wangi perayaan dilaksanakan selama satu minggu. Akhirnya, Nole menjadi suami Diang Wangi mereka hidup bersama dengan bahagia selamanya. Hingga meniliki keturunan
yang cantik dan tampan seperti kedua orangtuanya, sedangkan bekas
gesekkan badan Datuh Lauk Kali di daratan tempatnya bertarung hingga mati, lama-kelamaan menjadi sebuah sungai yang sangat deras. Masyarakat setempat menyebutnya Sungai Terusan Tumbang Manjul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

DUKUH MANGGANA DAN IKAN TAMPAHAS THE LEGEND OF SERUYAN RIVER