Petak Bahandang Katingan dalam legenda
Alkisah hiduplah sepasang suami istri yang penuh dengan kasih sayang dan penuh dengan kebahagia-an. Tetapi kebahagiaan belum lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Mereka telah bertahun-tahun berkeluaraga tetapi belum dikaruniai seorang anak.
Hingga akhirnya kedua insan ini memohon kepa-da sang Jata (Penguasa Air) agar mendapatkan keturunan. Sang Jata pun mengabulkan permohonan mereka dengan syarat bila anak yang dilahirkan laki-laki, ia harus menggembara tetapi bila anak itu perempuan harus dikurung di dalam rumah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tibalah saat-saat yang dinantikan.Sang istripun melahirkan seorang bayi perempuan. Sesuai dengan syarat yang diminta oleh Sang Jata, anak perempuan tersebut haruslah tetap berada di dalam rumah hingga menjadi dewasa atau disebut juga Bawi Kuwu. Setelah besar dan beranjak dewasa Bawi Kuwu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Tahun berganti tahun hingga tibalah musim untuk bercocok tanam. Semua orang pun pergi ke ladang termasuk kedua orang tua sang Bawi Kuwu. Hanya Bawi Kuwu yang tinggal di rumah.Hampir setiap hari kegiatan itu dilakukan oleh kedua orang tua Bawi Kuwu. Hingga suatu hari terdengarlah kabar yang tidak menyenangkan bahwa di hilir Sungai Katingan akan diadakan upacara adat Tiwah.
Dalam acara Tiwah itu ada berita mencari kepala se-orang perempuan atau gadis muda yang belum menikah. Maka kedua orang tua Bawi Kuwu menjadi khawatir. Mereka sangat takut kalau-kalau anak gadis mereka yang menjadi korban atau tumbal.
Entah mengapa kekhawatiran kedua orang tua Bawi Kuwu itu pada suatu hari terjadi juga ketika mereka sedang pergi kesawah. Ada sekolompok pe-muda yang diutus untuk menculik anak mereka dan kemudian dibawa ke tempat upacara tiwah dilaksanakan.
Mendengar Bawi Kuwu diculik oleh sekelompok pemuda dari desa seberang maka orang-orang desa tempat Bawi Kuwu tinggal menjadi marah. Damang (kepala adat) mengutus enam orang yang sudah dipilih dan tangguh dalam berkelahi untuk mengamnbil kembali Bawi Kuwu.
Namun apa daya Bawi Kuwu telah dijadikan tumbal. Maka keenam pemuda yang diutus menjadi sangat marah dan terjadilah peperangan antara enam pemuda dan penduduk desa seberang. Karena begitu banyak korban yang berjatuhan dalam peperangan itu dan darah mereka mengalir serta meresap ke dalam tanah, maka tanah tersebut berubah menjadi merah.Maka desa tersebut dinamakan Petak Bahandang, Petak berarti tanah yang berwarna merah.
Komentar
Posting Komentar