Perjuangan dibalik hutan belantara

 Tepatnya 2009 aku masuk ke kabupaten Seruyan bersama sang suami. Saat itu kami masih menjadi guru tidak tetap daerah, dan ditugaskan di desa Tumbang Manjul.

Aku sendiri sebenarnya terpaksa mengikuti keinginan suami, karena ingin mengabdi di kampung halaman, karena aku terbiasa hidup di tengah hingar bingar ibukota provinsi palangkaraya, Sampit adalah tempat asalku, masuk lagi 33 km arah menuju kota palangkaraya tepatnya di kecamatan Cempaga.

Aku berusaha untuk menerima kenyataan, bahwa harus berpisah dengan orang tuaku, sanak saudaraku. Aku tidak bisa membayangkan, karena ini pertama kali nya aku keluar daerah. Daerah terpencil lagi, ngga ada sinyal, ngga ada listrik,yang pasti tidak sama dengan kehidupan kota. 

Tumbang Manjul, adalah kecamatan terakhir kabupaten Seruyan, berada di daerah hulu, makanya di namakan Seruyan hulu. Saat aku berangkat ke Seruyan hulu, aku bersama suami naik speedboat. Menurut cerita orang-orang, Seruyan hulu banyak riamnya.

Padahal sebelum menandatangani kontrak kerja di Seruyan hulu, aku dipanggil untuk menjadi kepala sekolah di sebuah perusahaan sawit, yang baru buka. Karena ibu dari suamiku itu tidak mengizinkan suamiku bekerja di perusahaan. Maka dengan terpaksa aku mengikuti suami.

Padahal gajinya tak seberapa, Rp. 650.000 ribu saja, kalau dibandingkan dengan aku menghonor di sekolah di desaku, besar gajih honorku.Yah karena keinginan suami untuk mengabdi di daerahnya, dengan terpaksa, sekali lagi terpaksa. 

Kamipun naik ke speedboat, yang memuat sekitar 5/6 orang penumpang.saat itu aku masih membawa anakku berusia 2 tahun. Menaiki speedboat, dengan keadaan alam yang tidak pernah kami jalani, dan datangi. 

Sebelum aku pergi, mama tercinta sudah memberikan beberapa sangu, bagaimana perjalanan menuju tempat yang masih asing. Sebagai orang tua, tentunya merasa khawatir, karena baru pertama kali anaknya keluar dari rumahnya. 

Dalam perjalanan menuju Seruyan hulu memakan waktu sekitar 3/4 jam  perjalanan. Dengan bismillah, aku langkahkan kaki, dengan niat menemani suami.Selama perjalanan, hatiku merasa deh. deg. degan. Nyawa rasa keluar dari ubun-ubun. Bukan karena takut, tapi ngeri, melewati riam-riam besar dan kecil. 

Takdir itu urusan yang maha kuasa, tapi aku belum mau mati sekarang, gumamku, sambil memeluk bayiku. Aku ambil air, ku cuci kaki tangan dan badan anakku dan aku sendiri. Konon kata mamaku, anggap saja itu tanah, air sama saja. 

Biaya yang cukup besar, juga medan yang cukup menguji adrenalin.Tak lama kemudian sampailah kami ke kecamatan Seruyan hulu desa tumbang Manjul, tempat suamiku lahir. 

Setelah melaporkan diri ke atasan kami, akupun mulai harus belajar menyesuaikan diri, mulai dari makan, bahasa dan sebagainya. Sebenarnya Tumbang Manjul sendiri notabene nya warga muslim. Dan banyak juga keluarga yang bertugas di sana. 

2010.Malam itu tiba-tiba seluruh tubuhku gatal luar biasa, padahal aku ini tidak pernah alergi sama sekali. Padahal tidak ada makanan yang aku makan, aku cuma makan ayam goreng saja. Bukankah ini udah jadi kebiasaan di kota. 

Kenapa tiba-tiba,pindah ke sini jadi alergi. Kulit sampai kemerah-merahan. Berbagai upaya udah dilakukan, suntik obat dan sebagainya. Mungkin udah sekian juta uang keluar, untuk mengobati alergiku. 

Tinggal dengan mertua tidak seindah yang kita bayangkan. Bukan karena mertua jahat, tapi kalau mau bertengkar atau ada masalah dengan suami, ngga bisa langsung berantem, kaya kebiasaan aku tinggal sendiri. 

Susah ku ceritakan, karena rencana sudah tidak sesuai dengan kenyataan.Mulai dari segi apa saja, aku memang terbiasa dengan kebebasanku. Dan tidak ada yang bisa komentar apapun juga, nah inilah yang membuat mama takut aku tinggal bersama mertua.

Aku pribadi memang membatasi pergaulanku, terutama di sekitar rumah. Di sekolah pun aku juga membatasi kecuali hal-hal penting saja, dan itupun hanya urusan sekolah. 

Malam itu pertengkaran terjadi, 2011 saat itu bulan Ramadhan, aku mengira suami bisa membawa kebiasaan baik yang ada di lingkungan keluargaku, yang mengutamakan Ibadah daripada yang lainnya. 

Maksud dikembalikan tugas ke kampung halaman sendiri biar bisa nyambi pekerjaan yang lain. Eh, boro-boro, hanya mengandalkan gajih 650 ribu untuk ongkos, anak minum susu, belum lagi untuk di rumah, dan lainnya. 

Dibayar pun tiga bulan sekali, ayo bayangin, meninggalkan kemudahan di kota untuk mendapatkan CPNS, huuh. Tidak mesti sarjana harus jadi PNS kan?, "gumamku dan aku tak berani bersuara. 

Udah kita kena penyakit kulit di sini, apa-apa serba mahal, tetangga dan orang rumah suka menggosip, rekan kerja yang suka menggosip, sungguh lingkungan yang tak biasa. 

Aku berusaha bergaul dengan masyarakat sekitar, agar bisa menyesuaikan diri. Untuk menutupi kekurangan hidup, aku mengajar mengaji, melatih pramuka, menjual krupuk. Apa saja untuk menutupi kekurangan hidup. 

Suatu malam aku bertengkar dengan suami, karena suami sudah melalaikan tugasnya, semua kebutuhan di rumah aku memikirkan sendiri, hidup dengan mertua yang sudah lansia, dan kadang-kadang tidak cocok makanan dan sikap kita. 

Belum lagi kalau sudah datang cerewet lansia, udah itu ngurus anak kecil lagi. Untung saja anakku tidak terlalu cerewet. Subuh aku minggat dari rumah mertua, aku ajak anakku yang berumur 2 tahun, aku bawa semua pakaian ku, aku kecewa banget, kenapa tidak bisa membawa hal baik untuk diterapkan di rumah nya. 

2011 tepatnya suami sudah menjadi CPNS, dan bertugas di desa pelosok dari tumbang Manjul lagi, sekitar 6 jam perjalanan naik ces, tumbang Setawai nama desa itu. 

Saat itu aku masih berumur 31 tahun, tapi aku masih belum dewasa, karena kebiasaan ku yang berada di lingkungan keluarga yang tidak seperti itu, lingkungan yang tidak penuh gosip. 

Huuh. Kabur pulang ke rumah mama, mama bingung,aku bilang saja mau berpisah, aku bosan tinggal di pelosok seperti itu. Aku muak melihat sikap suamiku. Mamapun menasehatiku, walaupun aku agak sedikit keras, tapi kalau mama yang bicara, aku mana berani. 

Aku pikir aku masih muda, ngapain coba, karena aku emosi, untung aku punya mama, yang baik hati, dan mengutamakan ku selalu. Kami lebaran d tempat terpisah, suami dengan orang tuanya dan aku dengan orang tuaku. 

Aku mah, no komen aja yaa. Kabur ya kabur aja. Ngga perlu mikir, suami udah PNS atau apa, bagiku uang bisa ku hasilkan sendiri. Nah itu dia, selalu menjaga nama baik orang tua, aku tahan sikap dan sifat serta egoku. 

Beberapa hari kemudian, suami menyusulku kembali ke rumah orang tuaku. Dan menjemput aku dan anakku, dan kita buat Perjanjian, aku nggak mau satu rumah dengan mertua. 

Banyak sudah fitnah yang ku Terima, aku tahan saja. Saat suami pergi dari prajabatan, di luar kalimantan. 

Malam itu di rumah mertua, bicara macam-macam, dia bilang aku mempermalukan suami, punya hutang sana sini, lah ku bilang aku ngutang untuk kebutuhan bersama, lah gajih 650 untuk 5 nyawa mana cukup, gali lobang tutup lobang sahutku. 

Aku bertengkar hebat dengan mertua, ternyata usut punya usut si menantu perempuan yang lain mengadu domba. Ya uwes, pikirku, pagi itu kambuhlah penyakit jahat ku, ku biarkan gas habis, aku makan dikantin dengan anakku. Pikirku biar tau rasa, kita baik salah, jahat apalagi, nangis nangis dah tu dua jompo tu. Siapa suruh percaya omongan orang luar. 

Pagi itu di sekolah rapat antar guru, aku yang berangkat dengan emosi, bertemu lagi dengan tukang fitnah, sampai di sekolah kami bertengkar, melemparkan gelas, di depan kepala sekolah juga bertengkar, dia tarik rambutku, aku nggak mau melawan, karena perlawananku, akan aku akhiri di kantor polisi. 

Sore itu aku laporkan dia ke kantor polisi, dengan tuduhan memfitnah dan membuat pertengkaran antara aku dan mertua. Singkat cerita, berujung dengan damai. 

Aku ceritakan dengan mama, mamaku bilang, lebih baik kamu tinggal sendiri, cari rumah dinas.keesokan harinya aku mencari rumah dinas, dan keluar dari rumah ibu mertuaku. Ku hubungi suami, kalau dia masih mau bertahan hidup denganku, setujui aku pindah rumah. 

Suami mengijinkan aku pindah ke rumah dinas. Alhamdulillah, hidupku tenang dan damai tanpa orang-orang yang mengusikku.

2012 aku dan suami mutasi ke desa tumbang darap, aku mutasi ke sebuah SMP dan suami ke SD. Di sinilah semua kisah perjuanganku di mulai.

Semula memang hidup tanpa orang ketiga di rumah tangga,damai dan bahagia.Tumbang darap saksi segala tindak tanduku. Ku jalani hidup di tumbang darap dengan hati penuh suka cita. 

Tinggal di rumah dinas, sayang sekali penyakit kulit yang ku derita kembali menyerangku, bahkan seperti kulit buaya. Apakah gerangan yang terjadi.Aku tetap berusaha berprasangka baik, dengan hati -hati. 

Selama 2 tahun berasa di Tumbang darap, aku tidak berani makan minum sembarangan. Menerima apapun aku nggak berani, aku bergaul apa adanya saja, pulang sekolah aku tinggal di dalam rumah saja. 

Aku dan suami memang tidak mau satu instansi, karena aku ini orangnya lumayan vokal ya. Jadi dia tidak terlalu mau satu kantor sama aku. Its oke, no problem. 

2014,aku melahirkan anak kedua, dari situlah perubahan mulai ku rasakan,anehnya aku ngidam anakku kepengen nyanyi dangdut, duet sama pemuda desa tumbang darap. Eh, benar juga hamil besar pengen nyanyi,mulai dari situ aku sudah mulai bergaul dengan masyarakat, bercengkrama saat senggang. 

Namun tak berarti aku akrab sekali, aku tetap membatasi diriku. 2014 aku masih bertugas di SMP, mulai saat itu keberanian untuk membantu masyarakat mulai muncul. 

Aku mengikuti tes penyuluh agama, alhamdulillah, lulus dan menjadi pegawai kemenag, dan aku memang minta daerah pelosok. Tapi saat itu aku masih pegawai daerah, biasa orang-orang aneh sepertiku kan punya keistimewaan. Wkwkwk. 

Saat aku menguji siswa-siswi SMPN-3 SERUYAN HULU tepatnya di desa tumbang darap, tak ada satupun dari mereka yang bisa baca Alquran, hanya ada 2/3 orang aja yang paham. Lingkungan tumbang darap memang kurang mendukung untuk perkembangan dan kebaikan anak. Kalau acara penganten, pesta apa saja, tidak pernah yang namanya ketinggalan minuman kerasnya. 

Orang-orang desa yang notabene nya muslim dan nonis, yang jadi pembuat minuman keras nonis, yang minum muslim, cocok kan. 

Saat itu aku buka TPQ taman pendidikan Alquran, semua siswa wajib mengikuti kegiatan, kecuali nonis. Alhamdulillah dalam 1 bulan saja aku bisa mengajarkan mereka membaca Alquran. Dari situ aku juga membuka bimbingan untuk para mualaf, tak ada satupun aku meminta mereka membayarku. Cukup Allah saja yang mencukupi kebutuhanku. 

Tinggal di pelosok, tak ada listrik dan alat komunikasi, kalau mau nelpon kami harus keluar kampung. Bisa ke Nanga pinoh, nah kebetulan tumbang darap ini bagian desa dari kecamatan Tumbang Lanjut, tapi dekat dengan kalimantan Barat. 

Keberhasilan ku membuka lembaga pendidikan tidak cukup hanya sampai di situ saja. Suatu hari aku bertengkar dengan kepala sekolah SMP yang baru, kebetulan dia lebih muda 6 tahun dariku. 

Katanya aku membuat aturan, kalau siswa baru harus bisa ngaji, lah fitnah darimana lagi, coba, kenapa aku selalu saja difitnah, kan lucu, setelah pertengkaran itu, 2015 aku merintis kembali sekolah untuk anak usia dini. Karena aku melihat para sarjana di desa itu menganggur, dan alhamdulillah sekolah dibuka, ijin operasional diberikan, dan alhamdulillah menjadi sekolah favorit, hanya saja setiap perjuangan pasti ada halangan. 

Beberapa tahun kemudian, datanglah laporan yang melaporkan bahwa aku menguasai, sampai sekolah TK yang ada disitu tidak punya siswa. Wah fitnah lagi. Senang banget Tuhan uji aku dengan fitnah ya . 

Dipanggil lagi menghadap pimpinan kami, korwil dan Kabid PAUD. Alhamdulillah, terkadang dari fitnah itu membuat kita lebih dewasa. 

2022 saat dibukanya penerimaan ASN PPPK🤩aku juga mencoba peruntungan melalui tes tersebut. Alhamdulillah aku tembus. Dan ditugaskan di sebuah SMA NEGERI di daerah Seruyan hulu. Dari sinilah lahir SMKS MIFTAHUSSALAM UPPJ TUMBANG DARAP. 

Merintis sekolah ini, tidak semudah membalik telapak tangan, penuh perjuangan yang luar biasa, membawa sekolah menengah ke pelosok desa, kalau kecamatan boleh jadi, ini desa lo, di luar tumbang manjul. 

Sambil bolak-balik dari manjul ke darap, merintis SMK, walaupun saat itu hanya 9 siswa. Aku berharap orang-orang di sini tidak ada yang putus sekolah, saat itu ada 9 siswa-siswi pertama ku, aku bahagia walaupun aku harus sibuk. 

Saat itu aku meminta ijin kepala sekolah, kepala dinas pendidikan Provinsi, dan pa gubernur, juga kabid SMA dan SMK, mereka mendukung perjuanganku dalam dunia pendidikan. Lahirnya SMK itu juga menginduk dengan SMK yang ada di kecamatan lain, yaitu kecamatan Hanau.. 

Awalnya aku meminjam gedung SMP selama tiga tahun lamanya, nah perjuanganku itu tidak semulus jalan Tol, tahun ketiga kepala SMA NEGERI  Tempat tugasku awal berganti dengan yang baru, nah kepsek yang baru ini tidak mau mengijinkan aku lagi, untuk membuka sekolah, aku disuruh menutup sekolah dan memindahkan siswa-siswi ku. 

Enak saja, kepsek ni pikirku, aku udah berjuang, dia minta aku menutup, selama aku tidak melalap tugas utama, kenapa tidak diijinkan. Kamipun bertengkar, dan adu argumen. Aku sudah minta ijin ke kepala dinas, ke kabid, tapi kepsek keras kepala. 

Dengan tekad bulat dan tak seorangpun bisa menghalangiku, aku mengurus mutasi ke sekolah swasta, alhamdulillah, ternyata gubernur melalui kepala dinas pendidikan Provinsi, memberikan peluang untuk mutasi, karena kebutuhan sekolah dan pendidikan. Tepat 2024 aku mutasi di bulan Juni ke SMKS MIFTAHUSSALAM UPPJ TUMBANG DARAP.

Aku berharap dengan adanya sekolah ini, Anak-anak yang berekonomi menengah ke bawah bisa bersekolah,dibantu beberapa guru, aku merintis sekolah ini. Tapi lagi-lagi ku katakan, tiada usaha tanpa halangan. Ketika mengantarkan siswa-siswi pembekalan, bermula dari itu, aku di fitnah makan uang siswa-siswi, menelantarkan siswa-siswi, dan aku di sidang bersamaan dengan reses anggota dewan yang mana istrinya itu kepala sekolahku. 

Inilah perjuanganku, demi orang banyak aku rela difitnah, demi pendidikan dan memajukan desa orang lain aku rela berkorban.Aku mundur sebagai pengelola di tahun 2025 kemaren. 

Tuhan tidak pernah tidur atas semua perjuanganku dan pengorbananku. Alhamdulillah, sekarang gedung megah SMKS MIFTAHUSSALAM UPPJ TUMBANG DARAP, sudah berdiri dengan perjuanganku yang cukup berat. Walaupun sekarang dilanjutkan orang lain sebagai pengelola, aku sendiri tetap menjadi tenaga pengajar di SMKS MIFTAHUSSALAM UPPJ tumbang DARAP. Hidup ini tidak akan mudah, perjuanganku jangan sampai terputus, sekolah itu tetap hidup, aku ingin semua orang bisa menikmati semua hasil pemikiranku. 

Tuhan yang selalu ada bersamaku dan orang-orang baik yang ada di sekelilingku.Do'a ku menembus langit, tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah mengijinkanku. Terima kasih sudah memberikan aku tubuh dan jiwa sekuat baja. 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

DUKUH MANGGANA DAN IKAN TAMPAHAS THE LEGEND OF SERUYAN RIVER