PENGANTAR TIDUR
1.Kisah si palui
Di sebuah desa, hiduplah seorang bernama bandit, orang-orang memberikan gelar si palui. Palui adalah sebutan untuk orang bodoh, pemalas dan konyol.
Suatu hari si Palui berangkat memancing, sedangkan hari itu ada kenduri di dua desa yang bertetangga dengan desa Palui.
Dalam hati Palui bergumam, aku mau pergi memancing dulu, nanti saja pergi ke kenduri. Palui pun berangkat menuju sungai. Berjam-jam dia memancing, tak satupun ikan mematuk kalinya.
Duh, 'perutku sudah keroncongan, ujar si palui. Aku mau ke kenduri dulu. Nampak bayangan makanan lezat oleh si Palui, hingga air liurnya keluar.
Berangkatlah dia ke desa tersebut, yang jaraknya lumayan jauh, alhasil sesampainya di sana pestapun berakhir. Si palui pulang dengan kecewa.
Kalau begitu aku berangkat dulu ke desa yang satunya lagi, ucapnya sambil berjalan kembali menuju desa yang kedua. Karena jarak yang ditempuh cukup jauh,sesampainya di sana pun, pesta sudah berakhir.
Si palui pulang dengan kecewa, memancing ikan tak dapat, kenduri tak sempat makan, malang benar, akhirnya pulang dengan perut keroncongan. Tamat
2.Burup pipit menangis
Pada zaman dahulu, hiduplah dua yatim piatu, kakak beradik, yang bernama dayang dan kameloh. Mereka hidup berdua saja. Orang tuanya meninggal saat terjadi wabah penyakit, menyerang desa.
Dayang dan kameloh, hidup dari berladang menanam sayuran, dan tanaman lainnya. Suatu hari Dayang pergi ke ladang mencari sayur, dan kebutuhan kakak beradik.
Kameloh sang adik, tinggal di pondok sambil menanak nasi.Sambil menunggu kakaknya pulang dari mencari sayur-sayuran, kameloh duduk di depan pintu rumahnya, dengan kaki berjuntai, sambil melihat kawanan burung pipit yang memakan padi di hamparan ladang.
Orang-orangan sawah digoyang-goyang,untuk mengusir burung pipit. Burung pipit terbang berhamburan di udara. Seolah-olah mengejek kameloh.
Sesampainya di ladang Dayang memetik berbagai macam sayur-sayuran, Tiba-tiba Dayang melihat ada telur burung pipit di Sarang, sebanyak 10 biji. Dayangpun berkata dalam hati, ''hmm cukup untuk makan aku dan kameloh. Enak sekali rasanya kalau direbus, '' ucap Dayang.
Telur pun dipindahkan ke keranjang, dirasa cukup,maka Dayang pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, di sambut oleh kameloh, dengan bahagia.
Dayang membersihkan sayur-sayuran dan memasak telur, dan siap untuk mereka santap. Setelah semua sudah disiapkan,mereka kakak beradikpun makan dengan nikmat sekali, tak mereka sadari bahwa ada seorang ibu yang kehilangan calon anaknya.
Burung pipit pun, kembali ke sarang, sesampainya di sarang, dia menemukan telur-telurnya hilang. Burung pipit menangis sampai air matanya menyebabkan banjir besar.Sambil menangis burung pipit berucap"Pitpitai di mana telur ku tai Dayang, disantap Dayang menabas,dipucuk balangkasua hu.hu.hu.hu.berulang kali dia menangis, sampai dukuh tempat tinggal Dayang dan kameloh kebanjiran.
Rumahnya pun habis hancur di landa banjir, mereka berdua hanyut entah di mana berada. Mereka hanya menemukan batang gelonggongan yang besar, dan ada lobang di tengahnya. Mereka berdua tinggal di dalam batang pohon tersebut.
Suatu malam pangeran dan punakawan sedang berburu dan menombak ikan, sang pangeran ternyata kebelet buang air kecil, mencari jamban ke sana kemari, tidak ada, terlihatlah oleh Pangeran lobang pohon tadi, akhirnya dia kencing di sana.
Merekapun berlalu,dari sana dan melanjutkan perburuannya. Suatu pagi Kameloh keluar dari lobang batang tersebut, dan mengira sedang hujan. Diambilah air kencing pangeran tadi untuk diminumnya.
Terasa asin, " Ucapnya dalam hati. Hari berganti hari, setelah meminum air kencing pangeran, Kameloh jatuh sakit, dan mendadak perutnya membengkak bagaikan orang hamil 9 bulan. Ternyata setelah kakaknya Dayang melihat sang adik, merasa kasihan, bagaimana ini dinda? "Ucap Dayang.
Dinda hamil tidak tahu siapa bapaknya, harus bagaimana kita berdua menghidupi bayi ini nanti.Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan,akhirnya Kameloh melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan.
Dinda, bayinya tampan sekali, ucap sang kakak. Biarlah kita berdua menghidupi bayi ini. Suatu malam datanglah kembali pangeran bersama punakawan, mereka pergi berburu dan menombak ikan.Sambil melepas lelah mereka duduk di atas pohon.
Lamat-lamat mereka berdua mendengarkan suara bayi menangis dan suara orang berbicara, keduanya bingung di mana orang-orang itu. Ketika mereka menoleh ke batang, ternyata di dalam lobang batang besar ada kehidupan manusia.
Entah berapa lama mereka hidup di situ,kemudian pangeran dan punakawan menanggil kedua kakak beradik itu. Dan mereka terkejut, kedua gadis itu adalah anak dari Kerajaan Yang terkena wabah penyakit, yang mana seluruh penduduknya tidak ada yang selamat.
Akhirnya mereka diboyong oleh Pangeran ke Istana antah berantah, dan kameloh pun menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia. Tamat
3.Sandah wanita sombong
Ada sebuah kisah, di sebuah desa, yang bernama Campaka, ada seorang gadis muda cantik dan molek. Dia menjadi rebutan para pemuda desa,
Sandah memang cantik, tetapi dia sangat sombong, dan mengagungkan kecantikannya,dia memamerkan kepada semua orang dan para pemuda desa.
Sayangnya wajah cantik tidak diikuti oleh perangai yang cantik juga. Sandah kasar, kata-katanya selalu tidak pantas. Dan banyak yang tidak senang bergaul dengannya.
Suatu hari ada seorang pemuda melamarnya, namun pemuda itu sangat miskin sekali, sandah menolak dengan kata-kata yang kasar. Sehingga pemuda tersebut sakit hati. Suatu malam Sandah bermimpi, sekujur tubuhnya penuh nanah dan koreng.
Ketika dia terbangun dari tidurnya, Sandah melihat tubuhnya sudah ditumbuhi penyakit aneh. Orang tuanya sakit hati melihat penyakit yang dideritanya. Berbagai pengobatan dilakukannya, namun tidak membuahkan hasil.
Sampai suatu malam orang tuanya bermimpi, bertemu dengan pemuda yang melamar Sandah, dalam mimpinya pemuda itu berkata, kalau ingin sembuh, temuilah aku di gua di tepi sungai.
Terbangunlah sang ibu, dari mimpi, dan keesokan paginya,dia menyampaikan kepada Sandah agar melakukan perjalanan mencari sebuah gua tersebut.
Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,dalam perjalanan Sandah meninggal dunia, dan penyakit kulitnya tak dapat diobati. Dikuburlah Sandah di dekat gua yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut. Akhirnya Sandah menjadi kisah, yang terlupakan. Tamat
4.SANGOMANG
Pada zaman dahulu, di daerah pedalaman Kalimantan Tengah, terdapatlah sebuah desa yang sangat terkenal, Desa ini diapit oleh dua buah pegunungan, dengan hamparan hijau yang luas, dikelilingi hutan belantara yang lebat.
Di sana terbentang suasana alam yang asri, air sungai yang jernih ada di sebelah timur dan hampao luas ladang petani, itulah desa Rawi namanya.
Sebuah desa yang subur, penduduk yang makmur. Dengan keramah tamahan merupakan ciri khas masyarakat desa Rawi. Mereka suka menolong, membantu orang lain yang kesusahan. Hidup mereka sangat harmonis, dengan keadaan desanya maka desa rawi sangat terkenal.
Terdapatlah seorang pemuda yang gagah, kharismatik, pemberani dan baik hati, tubuhnya yang tegap, dan rambutnya panjang sebahu. Bermata sipit dan berkulit putih. Sangumang adalah pemuda yang rajin.
Sangumang hidup bersama ibunya, yang sudah tua renta, di sebuah rumah panggung. Sangumang yang memiliki tubuh yang tetap dan kuat. Yang selalu menolong terhadap yang
lemah. Pemuda gagah itu bernama Sangumang. Ia hidup bersama ibunya yang sudah tua di sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin dengan ukuran 5 x 7, atapnya dari kayu ulin yang dipotong kecil dan tipis seperti karton. Oleh masyarakat setempat kayu olahan tersebut dijadikan atap rumah yang diberi nama atap sirap Dindingnya dari kayu Benuas yang semuanya itu diambil dari hutan sekitar desa itu. Sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak ia masih kecil.
Sangumang seorang pemuda yang rajin. Setiap hari ia mengambil air di sungai dan mencari kayu di hutan untuk keperluan sehari-hari. Ia bekerja keras tak kenal lelah membantu ibunya yang sudah tua. Sangumang sangat senang mencari ikan di danau atau sungai yang terdapat di sekitar desanya. Ia suka memancing,
memasang bubu, dan menjala ikan. Ia memiliki kelebihan dapat berbicara dengan binatang. Karena kelebihannya inilah, banyak orang yang senang berteman dengannya.Ia juga tidak segan-segan membantu orang yang membutuhkan pertolongan, karena sejak kecil
Sangumang dididik ibunya untuk menolong sesama terlebih kepada binatang yang lemah. Sangumang merupakan orang yang sangat baik hati, dia memiliki kekuatan super. Dia bisa mengangkat batu besar.
5.BURUNG HARUWEI
Sebuah desa hiduplah seorang janda bersama kedua putrinya. Kedua putri tertua dayang manjalin dan Dayang Putri. Suatu hari ibunya hendak mencari kayu bakar di hutan.
Dayang Manjalin,"ucap sang ibu! "ibu mau berangkat ke hutan mencari kayu bakar, sayuran-sayuran dan lauk pauk. Jagalah adikmu, nanti kalau Dayang putri terbangun, mandikanlah, beri makan, dan potonglah kukunya.
Baiklah bunda, " sahut Dayang Manjalin. Sang ibu pun berangkat ke hutan. Mengumpulkan kayu bakar, untuk dijual ke kampung.
Dayang Manjalin,membersihkan rumah, menyapu, memasak nasi, dan mencuci pakaian. Setelah adiknya terbangun, Dayang Manjalin, memandikan adiknya, memakaikan pakaian dan menyuapi adiknya makan.
Setelah selesai semua tugasnya, Dayang Manjalin, mengajak adiknya duduk di depan pintu, ia menyisir rambut adiknya, kemudian rambutnya dikepang menjadi dua.
Adindaku, "ucap Dayang Manjalin, "mari kesini! Kakak mau potong kukunya. Baiklah kanda, "sahut Dayang putri. Satu demi satu kuku dipotong, tanpa dia sadari jari-jari Dayang putri terpotong juga.
Menangislah Dayang putri, sambil menghempaskan badannya, uei.... uei. lebih baik jadi burung haruwei. Kata mama potong kuku, kata kakak potong telunjuk. Uei... Uei... Uei, lebih baik jadi burung haruwei,kata mama potong kuku, kata kakak potong telunjuk.
Putri bungsu menangis sejadi-jadinya, sampai seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu, sang kakak meminta maaf kepada sang adik, karena melakukan kesalahan. Sang kakak tidak sengaja. Karena terlalu asyik memotong kuku, tidak dia sadari telunjuk adiknya terpotong.
Akhirnya sang adik berubah menjadi seekor burung haruwei.
Datanglah sang bunda, dan bertanya, "Dayang, " di mana adikmu?
"Bunda, " maafkanlah Dayang Manjalin,"mohon Dayang Manjalin, aku tidak sengaja melakukan hal itu. Adik sudah ada di atas pohon itu, dia berubah menjadi burung haruwei. Karena kelalaianku.
Sang bundapun menangis, melihat kejadian tersebut. Akhirnya mereka berdua hidup bersama burung haruwei. Tamat
6.Batu belah batu betangkup
Di sebuah hutan belantara, hiduplah seorang janda bersama kedua putra dan putrinya. Suatu hari mereka sedang pergi berburu, mencari kayu, sayur dan lauk di hutan dan sungai.
Setelah dirasa cukup, bertiga beranakpun, pulanglah ke pondok. Sang ibu menyuruh putri sulungnya untuk memasak nasi, sayur dan lauk yang mereka dapatkan.
Sang putri mengambil periuk dan beras, lalu memasak nasi. Sambil memasak nasi, putri sulung membersihkan sayur dan lauk yang mereka dapatkan tadi.
Putri, "ucap wanita tua itu, bunda mau mencari kayu bakar ke hutan sebentar. " Nanti kalau nasi, dan lauk sudah masak, kamu dan adikmu boleh makan duluan. Nanti sisihkan buat bunda ya? "Putri.
Baiklah bunda, " sahut Sang putri. Berangkatlah wanita itu ke hutan, mencari kayu bakar. Nasi dan sayurpun sudah masak. Adikku, "ucap putri, apakah kau mau makan duluan? ".
" Ya, kanda, adinda sudah lapar, "jawab Sang adik. Putripun mengambil satu piring nasi dari periuk, 2 sendok sayur dan 1 potong ikan. Sang adik makan dengan lahapnya.Tidak ada nasipun tersisa, begitu juga lauknya. sebutir
Kanda, " pinta Sang adik, boleh aku nambah lagi. Sang kakakpun kembali mengambil nasi dalam periuk. Sang adik makan kembali dengan lahapnya. Sang kakak yang tadinya tidak ingin makan, karena menunggu Sang ibunda datang. Akhirnya merasa kelaparan juga.
Diapun mengambil sayur dan lauk secukupnya, dan menyisihkan sebagian untuk Sang ibu. Mereka berdua kakak beradik itupun makan dengan lahapnya. Kanda, "pinta Sang adik, aku mau lagi, masih lapar.
Wahai adikku, " Ucap sang kakak, nasi dan lauk, hanya untuk ibunda, kalau kamu ambil, nanti Bunda tidak makan. Dari pagi bunda belum makan sama sekali. Sang adik tidak peduli, bahkan menangis, ingin mengambil bagian Sang ibu. Wahai adikku, "ucap Sang kakak, " ini kau ambilah bagian kakak. Di ambilah bagian Sang kakak, dan Sang adikpun makan dengan lahapnya.
Entah apa yang merasuki sang adik,mengapa menghabiskan semua makanan, dia mengambil lagi makanan jatah sang bunda, tanpa sepengetahuan sang kakak. Dia menghabiskan semua makanan itu, dan setelah kenyang dia tertidur pulas.
Sang kakak, terkejut melihat makanan yang disisihkan untuk sang bunda, sudah dihabiskan oleh adiknya. Dia teramat marah, kenapa sang adik tega menghabiskan makanan. Sementara sudah tidak ada lagi makanan untuk ibunya.
Datanglah wanita tua, dengan kayu bakar, dia meletakkan kayu bakar tersebut di bawah rumahnya. Dia pun naik ke rumah, dan memanggil sang putri. Anakku, "ucap sang bunda, " bunda lapar, bunda mau makan.
Sang bunda, mengambil segelas air putih, dan minum seteguk untuk membasahi tenggorokan. Bunda maafkan putrimu, putri tidak bisa menjaga amanahmu. Makanan yang putri sisihkan buat bunda, telah dihabiskan oleh adikku.
Bundapun menangis sambil menahan rasa lapar, diapun pergi keluar rumah, dia berjalan tak tentu arah, dia pergi menemui sebuah batu besar yang bernama batu belah batu betangkup.
Wanita itu menangis tersedu-sedu, "sambil berkata, " batu belah batu betangkup, makanlah aku,anak-anak sudah tidak sayang lagi padaku, mereka menghabiskan makanan untukku.
Wanita itu mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Sementara sang putri dan adikknya mengejar ibu mereka, sambil menangis dan memanggil. "Bunda, bunda, di mana kau bunda? " teriak mereka berdua.
"Batu belah batu betangkup, telanlah aku, mereka anak-anakku sungguh tega padaku, mereka menghabiskan makanan untukku.
Setelah memohon berkali-kali, batu besar hitam itupun membuka mulut,dan menelan ibu kedua anak-anak itu. Kedua kakak beradik itupun menangis dan menyesali perbuatannya.Tetapi ibu mereka tak pernah kembali lagi. Tamat
7.Tujuh Putri kayangan dan Pangeran
Pagi yang cerah, terdengar suara riuh dan canda tawa para gadis yang cantik jelita. Mereka adalah tujuh putri yang baru turun dari khayangan, mereka bertujuh mandi di telaga yang air jernih, yang berada di tengah hutan.
Telaga itu, berada di rimbunan pepohonan, suara burung berkicau, menambah keindahan suasana alam pagi itu. Setelah mereka puas bermain, tujuh putri tersebut naik kembali ke khayangan.
Keesokan harinya tujuh putri tersebut berencana, ingin kembali mandi turun ke dunia bawah. Merekapun bersiap-siap untuk terbang menggunakan selendang mereka.
Mereka kembali bermain, tanpa lelah dan tak mereka ketahui sepasang mata mengawasi mereka. Saking asyik bermain, mereka lupa keadaan sekitar mereka.
Saat itu seorang pangeran sedang pergi berburu rusa, dia mendengar suara cekikikan, dia merinding, masa! "gumamnya,"di hutan ada suara orang, seperti orang sedang bermain. Pangeran itupun lalu mengintip diam-diam.
Mata dan mulutnya terbelalak dan ternganga, cantik sekali gadis-gadis itu, dan yang paling cantik adalah yang paling bungsu. Pangeran mengambil baju salah satu putri khayangan tersebut.Dia menyembunyikan pakaian putri tersebut di tempat yang tidak bisa ditemui, di lumbung padi.
Hari mulai sore,para putri khayangan sudah puas bermain, merekapun bersiap-siap kembali ke khayangan, dan putri bungsu menangis, bajunya telah hilang, kakak-kakaknya sudah kembali ke khayangan, karena hari sudah mulai gelap. Menangislah putri bungsu tinggal sendirian di dunia manusia.
Pangeranpun bertanya, "ada apakah gerangan tuan putri menangis." Aku telah kehilangan bajuku, "jawab putri bungsu. " Aku tidak bisa kembali ke khayangan.
Kalau begitu ikutlah denganku, "ucap sang pangeran. "Aku hanya tinggal sendiri dan menikahlah denganku.
Putri bungsu, akhirnya menikah dengan sang pangeran. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan,putri bungsu, sangat merindukan sanak saudaranya, dia ingin kembali ke khayangan. Di mana gerangan bajuku hilang. Aku harus mencari bajuku, agar aku bisa kembali ke khayangan, "gumam putri bungsu.
Suatu hari putri bungsu, ingin memasak nasi, rupanya beras mereka sudah habis.Masuklah putri bungsu untuk mengambil padi ke dalam lumbung,dan berencana untuk menumbuk padi tersebut. Ternyata pangeran lupa, bahwa baju yang ia curi, dia sembunyikan di dalam lumbung padi.
Pangeran lupa, hari itu dia berangkat berburu, dia menyimpan rahasia selama bertahun-tahun lamanya. Akhirnya takdir sudah menentukan, mereka berdua. Saat putri bungsu mengambil seikat padi, tampaklah olehnya, sebuah baju khayangan, hah ternyata selama ini,pangeran telah berbohong padaku, "rutuknya dalam hati.
Setelah menemukan baju khayangan, putri bungsu mengambil baju tersebut, dan cepat-cepat dia memakai baju khayangan dan diapun kembali ke khayangan.
Ketika pangeran melihat sang putri, hendak terbang ke khayangan," istriku kembalilah, bagaimana anak kita, "dia masih kecil. Putri bungsu berkata, " kanda telah berbohong padaku,ini sudah takdir kita berdua, jagalah anakku. Kalau kalian ingin bertemu denganku,lihatlah pelangi saat mau hujan, "ucap putri bungsu. Kembalilah putri bungsu ke khayangan, berbahagia bertemu dengan enam saudaranya.
8.Nenek Kabayan
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang nenek tua. Dia tinggal seorang diri, tak punya anak dan cucu. Rambutnya yang putih dan matanya yang merah.
Mama sering melarang kami, keluar di siang hari, nanti ditangkap nenek Kabayan. Nenek Kabayan adalah sosok wanita tua, yang ditakuti anak-anak di kampung tersebut.
Nenek Kabayan, mempunyai rumah, besar dan di dalamnya penuh dengan aura mistik. Kalau melewati rumah nenek Kabayan, orang-orang selalu tergesa-gesa, agar jangan sampai bertemu dengan nenek Kabayan.
Kalau berbicara dengan nenek Kabayan, seperti ada magnet yang membuat kita ingin masuk ke dalam rumahnya.Matanya yang merah menatap tajam, kepada siapa saja yang menjadi lawan bicaranya.
Sebenarnya nenek Kabayan adalah orang baik, tetapi beliau memang terbiasa hidup sendiri. Anak-anak takut dengan nenek Kabayan. Nenek Kabayan adalah seorang wanita pengasuh. Yang menjaga seorang putra mahkota.
Nenek Kabayan adalah seorang wanita yang baik.
9.Maharaja dan Tujuh putri
Desa Rawi juga memiliki seorang tokoh yang dituakan dan dijadikan panutan. Tokoh itu bermama Maharaja.Ia memiliki tujuh orang puteri yang cantik jelita. Maharaja memiliki sifat yang sok tahu dan selalu tidak mau kalah.Dia selalu saja merasa dialah yang paling hebat dan terkadang ingin menang sendiri. Maharaja cukup terpandang di kampung tersebut dan disegani masyarakat oleh karena itu dia diberi nama Maharaja.
Ketujuh puteri Maharaja memiliki sifat yang berbeda-beda. Puteri yang pertama memiliki sifat sombong, puteri yang kedua suka berbohong, puteri yang ketiga sifatnya pendiam, puteri yang keempat sifatnya pemarah, puteri yang kelima memiliki sifat boros, puteri yang keenam memiliki sifat kikir dan puteri yang ketujuh memiliki sifat yang rendah hati. Walaupun memiliki sifat yang berbeda, ketujuh puteri Maharaja hidup rukun dan damai.Kecantikan tujuh puteri Maharaja terkenal ke seluruh Kampung Rawi. Banyak pemuda desa yang mencoba mendekati namun dihalangi oleh sang ayah.
Karena ia ingin anak-anaknya kelak menikah dengan orang yang terpandang, memiliki banyak harta, hasil ladang yang berlimpah dan disegani oleh masyarakat setempat.Maharaja menganggap tak seorang pun yang pantasuntuk menjadi menantunya. Di matanya pemuda di desa itu miskin dan tidak cocok untuk jadi menantunya.
Mereka meminang puteri Maharaja, namun semua ditolak dengan kasar. Terkadang Maharaja meminta sesuatu yang tidak masuk akal pada siapa saja yang ingin meminang puterinya. Tentu saja hal itu dilakukannya agar niat pemuda yang akan meminang puterinya itu diurungkan dan tak seorang pun yang berhasil memenuhi keinginan Maharaja.
Perbuatan Maharaja membuat hati sang putri bungsu yang baik hati menjadi sedih. Ia berdoa kepada Sang Pencipta agar suatu saat ayahnya dapat menyadari perbuatannya.Betapa berbaktinya putri bungsu.Akhirnya dengan kesombongan Maharaja ke tujuh putrinya tidak ada yang punya suami.
10.PUTRI BUNGSU, SANDAH DAN SEEKOR RUSA
Di sebuah desa hiduplah dua orang bertetangga, putri bungsu dan Sandah. Keduanya hidup di tengah hutan di pinggir desa.
Setiap hari mereka berdua mencari sayur-sayuran di hutan tersebut. Hutan yang ditumbuhi berbagai tumbuhan liar, dan juga terdapat banyak hewan buas.
Seekor Rusa yang sudah tua, duduk di bawah pohon ara. Sambil menanti kalau ada orang yang sudi memberikan makanan.
Suatu hari sang putri berniat untuk mencari pakis atau tanaman paku. Karena di rumahnya sudah tidak ada makanan, garam, gula, beras dan kebutuhan lainnya.
Berangkatlah sang putri mencari sayur-sayuran, Untuk di jual di kota besok pagi. Sambil berpantun sang putri memetik, paku dan sayur lainnya. "Patah-patah paku, bergaram tidak, beasam tidak. " Berualang-ulang kali putri mengucapkan pantun tersebut.
Siang itu Rusa tua sedang tidur siang, mendengar pantun pilu sang putri, "Rusapun berucap, " Korek pantatku ini, Korek pantatku ini, "ujar Rusa jelmaan makhluk ghaib tersebut.
Mendengar kata-kata Rusa tua itupun, putri mencoba melakukan sesuai perintah sang Rusa. Diambilnya lah ranting kayu yang kecil, dikoreklah pantat sang Rusa.Ajaib, " dari lobang pantat Rusa keluar emas, intan, dan uang logam. Putri bungsu senang sekali, ayo Rusa kita pergi ke kota kerajaan, "ajak sang putri dengan semangat.
Berangkatlah mereka berdua, menuju kota kerajaan, sayur-sayuran diletakkan di dalam lanjung,dan naiklah sang putri di atas punggung sang Rusa.
Sesampainya di Kerajaan putri bungsupun menjual sayur-sayuran yang dia bawa, membeli baju, dan semua kebutuhan yang ada di dalam rumahnya.
"Ayo tuan putri, hampir senja, mari kita pulang ajak sang Rusa. Sang putripun naik kembali ke punggung sang Rusa. Malam itu terang bulan, nampak cahaya bintang gemerlapan di langit.
Sambil berjalan menuju tempat kediaman sang putri, sang Rusa pun bertanya.
"Apa yang gemerlap gemerlap cucu? " tanya sang Rusa.
"Bintang di langit satu, " jawab sang putri.
Diulangi kembali pertanyaan tersebut, apa yang kedugap-kedugap cucu? "tanya sang Rusa.
Suara orang menumbuk padi di kota satu, " jawab sang putri. Demi menghargai sang Rusa, putri berbohong, padahal itu suara kaki Rusa dan yang gemerlap-gemerlap adalah sinar mata Rusa.
Tak terasa tibalah sang putri ke hutan tempat tinggalnya. Rusa diberikan kue yang lezat. Terimakasih datu, "ucap sang putri.
Sesampainya di rumah, putri memasak makanan yang cukup lezat. Dia menggunakan baju dan perhiasan yang sangat cantik.
Datanglah Sandah tetangga sang putri, dan bertanya, darimana kamu mendapatkan semuanya ini putri, " tanya Sandah.Suatu hari aku berangkat mencari pakis, dan sayur-sayuran, yang mau aku jual ke pasar kerajaan.
"Terus, saat aku memetik sayur, aku berpantun. " Ayo putri ajarin aku, "ucap Sandah dengan semangat, aku juga mau semua yang kau miliki. " ujarnya lagi.
Dengan terpaksa, putri bungsu pun mengajarkan pantun tersebut. "Patah patah paku, bergaram tidak beasam tidak. " Itulah pantunnya. Tapi Sandah tidak percaya, mustahil pantun itu bisa menghasilkan emas dan uang.
Berangkatlah dia ke hutan mencari sayur-sayuran, saat dia memetik sayur-sayuran, Sandahpun mengikuti petunjuk dari sang putri. "Patah, patah paku, begaram tidak beasam tidak".Hanya saja lagunya tidak semerdu putri bungsu, diucapkan tidak selembut putri bungsu.
Siang yang panas itupun, sang Rusa sedang bersantai di bawah pohon Ara. Dia mendengarkan suara pantun tersebut.Dalam hati Rusa bergumam, " padahal baru saja pulang dari belanja, "ucap Sang Rusa tua.
Tapi kok, " suaranya tidak sama, ini agak sedikit kasar, tidak selembut putri bungsu. Sandahpun mengulangi pantun tersebut berulang kali.
Dengan rasa malas Rusapun menjawab, "korek pantatku ini, korek pantatku ini, " ucap sang Rusa. Dengan tidak sabar Sandahpun mengambil kayu yang besar, dan mengorek dengan kasar. Apa yang terjadi sang Rusa kesakitan, dan keluarlah kalajengking, tawon dan binatang penyengat lainnya, sementara uang perak saja yang keluar.
Diapun berangkatlah ke kota memaksa sang Rusa yang kesakitan. Naiklah dia ke atas punggung sang Rusa. Setelah menjual hasil sayur-sayuran, Sandah juga berbelanja, tetapi tidak sama dengan sang putri.
Senja hampir tiba, merekapun pulang kembali ke dukuh tempat tinggal mereka berdua sang putri.
Sama seperti sang putri, ketika dalam perjalanan, "sang Rusa juga mengajukan pertanyaan. Malam itu suasana gelap, tidak ada satupun cahaya bulan dan bintang, yang ada hanya kunang-kunang.
" Apa yang gemerlap-gemerlap cucu, "tanya sang Rusa? Dijawablah dengan kasar oleh Sandah, " biji mata Datu. Bertanya kembali Sang Rusa, "apa yang gedugap-gedugap cucu? " suara telapak kakimu Datu.
Dengan marah sang Rusa berlari kencang, dalam keadaan gelap, Rusa berlari tak tau arah. Terjungkallah Sandah beserta belanjaannya, akhirnya Sandah babak belur oleh kelakuannya yang kasar dan jahat. Sang Rusapun sudah tidak bisa lagi, berdiri. Akhirnya Sandah berjalan menuju rumah dengan rambut acak-acakan. Tamat.
Komentar
Posting Komentar