Penyesalan dua bersaudara
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang arif bijaksana. Rakyat sangat mencintai sang raja. Rakyat sangat hidup sejahtera dan bahagia dibawah kepemimpinan sangat Raja.
Sang Raja dikaruniai dua orang putra yang sangat tampan dan gagah. Kedua anaknya diberi nama buaya dan naga. Raja mendidik kedua putranya dengan baik. Kelak merekalah yang akan melanjutkan kepemimpinan di Kerajaan tersebut.
Pada suatu hari sang ratu sakit keras, karena penyakitnya itulah yang membuat dia meninggal dunia. Raja sangat bersedih, setiap hari sang raja hanya duduk termenung, mengingat kenangan bersama sang ratu.
Hari berganti hari, sang raja jatuh sakit, karena terlalu banyak memikirkan sang ratu, raja tahu, dirinya sedang tidak baik-baik saja. Dengan membawa hati yang suka raja pun memutuskan untuk berlayar, dan menghibur diri.
Sang raja berpesan kepada buaya dan naga untuk menjaga istana dengan baik. Tanpa harus merugikan rakyatnya. Naga dan buaya meyanggupi amanah sang ayah. Akhirnya sang ayah meninggalkan Kerajaan untuk pergi berlayar.
Meskipun sang raja memiliki sifat arif dan bijaksana, hal ini tidak serta merta menurun kepada kedua putra kembarnya. Sifat baik sang raja yang tidak suka berpoya-poya dan suka menolong sesama hanya menurn kepada buaya.
Sebaiknya sang naga memiliki sifat yang bertolak belakang. Dia suka mabuk-mabukan, berjudi dan bermain perempuan. Ternyata buaya tidak senang dengan kelakuan kembarannya, buaya pun menegur sang kakak, dan naga pun marah terhadap buaya.
Karena naga tidak bisa dinasehati, akhirnya buaya marah dan melawan naga. Pertempuran kedua bersaudara itupun pecah, banyak rakyat yang dirugikan dan para pengawal berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Dalam pelayaran sang raja memiliki firasat yang tidak baik, terhadap Kerajaan yang dia tinggalkan, akhirnya sang raja memutuskan untuk pulang ke Kerajaan.
Ketika sang raja sampai ke Kerajaan, raja menyaksikan kedua putra kembarnya berkelahi, dan memanggil keduanya untuk menghafap.
Sang Raja marah melihat kelakuan kedua putranya, sebab mereka berdua tidak bisa menjaga amanahnya. Bahkan mereka berdua bertempur sampai merugikan rakyatnya. Akhirnya dalam keadaan marah sang raja mengutuk kedua putranya menjadi seekor buaya dan naga.
Buaya diberikan hukuman tidak terlalu berat, dan naga yang sombong dan nakal, dihukum dengan seberat-beratnya. Mereka berdua dihukum buaya dihukum menjaga pulau mintin dan naga dihukum menjaga sungai kapuas.
Komentar
Posting Komentar