Keretakan rumah tangga ibuku

 Sore itu aku pulang dari sekolah, aku sekolah di sebuah SMP PGRI, sekolah swasta di daerahku, saat itu aku berada di kelas 9,aku berencana ingin melanjutkan ke SMA Negeri di kota ku, namun mama tidak mengijinkan aku untuk sekolah di sana., dengan dalih tak ada yang mengawasiku. 

Semalaman aku mengurung diri di kamar, aku mengendap-endap menuju dapur, rasa lapar mengeroyok isi perutku. Karena lagi ngambek sama mama. 

Sebelum pengumuman kelulusan aku ikut keluarga ke kota provinsi, (palangkaraya), karena aku orang Sampit. Aku pun berangkat ke sana, dengan tekad mau sekolah di kota. 

Aku, ngga mau, "sahutku, aku mau sekolah, dengan atau tanpa uang mama. Saat pikiran ku labil, muncul bermacam-macam ide di otakku, mau jadi pembantu saja di kota, asal bisa sekolah, atau aku jadi wanita penghibur aja, pikirku, " Dasar konyol, sambil menggaruk-garuk kepalaku. 

Akupun mendaftarkan diri di SMKN-3 Palangkaraya, itupun udah jalur khusus, karena, masuknya terlambat dan sistem zonasi. Aku harus masuk lewat belakang. Jurusan tata busana, itulah jurusan yang ku ambil. 

Aku memang jadi pembantu, di rumah keluarga, tapi nggak apa-apa, ini kulakukan demi cita-citaku, aku anak orang miskin dan tak mampu, masa nggak boleh bermimpi. Aku mau bermimpi menjadi orang besar, orang terkenal. 

Mama, maafkan aku ya, "mohonku pada mama, sambil mencium tangannya. Aku mau sekolah yang tinggi, aku nggak mau nikah muda, kaya mereka itu. Akhirnya mama mengijinkan aku untuk belajar di kota, dengan syarat ikut dengan keluarga. 

Walau bagaimana pun, mama akan tenang, bila ada yang mengawasimu." Baiklah mama, aku pamit, doakanlah aku anakmu ini. Agar sukses. 

Di kota aku belajar, mencari ilmu, yah memang berat sekolah sambil mengurus adik-adik kecil anak tanteku. Tak apa, demi impian, aku rela. Terkadang aku ijin sekolah, menjaga adik-adik, ketika tante berurusan keluar Kota. 

Kadang-kadang aku bisa juga berontak, karena saat itu yang ikut tante aku dan kakak sepupuku, aku sering pura-pura bilang aku ada ulangan, pagi sekali aku berangkat, supaya aku tidak ijin sekolah lagi. Terpaksalah kakakku yang ijin. 

Begitulah keadaan ku, hingga 3 tahun lamanya aku selesaikan pendidikan, tapi aku nggak pulang ke kampung halaman. Aku bekerja di sebuah butik, sambil memperdalam ilmu menjahit. 

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, aku hanya berencana untuk pulang ke kampung, karena rindu dengan mama. Adik ketigaku waktu itu sedang duduk di kelas 9 SMP. Sebentar lagi dia mau lanjut sekolah. 

Dewi adikku, punya impian yang sama, terlampau panjang sekali keinginannya, dia mendaftar di SMK jurusan Keuangan, dia minta ijin untuk sekolah di Sampit saja, Dewi nggak mau kaya kakak, ngurus anak orang, aku nggak mau sekolah di palangkaraya, ucapnya sore itu,. Mama diam tak bisa bicara, "Dewi yang agak sedikit keras kepala, bisa merayu ibuku untuk kost sendiri di kota Sampit. 

Mama, kenapa mama mengijinkan Dewi, " Tanyaku, mama nggak takut terjadi apa-apa nantinya, dulu aku nggak diijinkan, yah aku memang agak rada-rada sedikit nakal, bukan nakal yang aneh. Itulah mama nggak ngijinin kamu, ucap mama kala itu. 

Yah sudahlah, Dewipun sekolah di Sampit, namun kejadian itu sangat membuat luka yang mendalam, dan membekas tak bisa dilupakan, dan bahkan gila bila mengingatnya. 

Dewi hanya menjalani pendidikan selama 40 hari. Siang itu kami duduk terdiam tanpa kata, ketika teman-teman Dewi datang ke rumah. Dengan hati penasaran, dan gugup kami mempersilahkan teman-teman Dewi masuk. 

Ada kabar buruk bu, ucap salah satu teman Dewi, kabar apa, aku sudah berdiri tak sadarkan diri menggoncang tubuh teman Dewi, maaf Bu, ucapnya agak gagap. Dewi mengalami kecelakaan.Bagaikan berdiri di diri, ibuku bangun dan jatuh pingsan, bagaimana kabar Dewi, hah aku marah luar biasa, semua gara-gara kalian.

Kenapa kalian mengajak dia, mempengaruhinya, membawanya bergaul ke pergaulan yang tidak jelas. Ini akibat dari pengaruh buruk kalian. Air mataku jatuh tak terbendung. 

Saat terakhir aku bertemu Dewi, aku melihat keanehan pada adik ketigaku itu, maklum aku yang kadang-kadang punya penglihatan tak biasa. Aku melihat cahaya keluar dari kepalanya, saat aku menatapnya, aku pengen menangis, dan aku terdiam. Dalam hati aku berdo'a, semoga Allah menjaga adikku. 

Bagai disambar petir di siang bolong, saat mendengar berita kecelakaan adikku, Dewi belum sadarkan diri, kami berangkat ke rumah sakit dengan hati yang tak karuan. 

Mama sudah tidak bisa bicara apapun, rasa luka yang dialaminya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tak banyak bicara, mama terus beristighfar, agar bisa menahan emosi,terhadap teman-teman Dewi. Dewi diam kaku tak bergerak, air mata nya keluar dari mata sebelah kirinya. 

Hati ibu mana yang tak terluka, aku tau semenjak Dewi sekolah, ibuku hanya satu kali menjenguk Dewi, begitu juga kakak tertuaku. Mereka sibuk dengan pekerjaan, seperti melupakan Dewi. 

Mungkin inilah yang mama khawatirkan dulu kepadaku, dia tidak mengizinkan aku untuk ngekost sendiri. Air mata tak terbendung melihat keadaan Dewi, Dewi maafkan kami, ucap mama, sambil menahan air mata. Seminggu lamanya Dewi di ruang rawat darurat. 

Ternyata Allah berkehendak lain, Dewi berpulang ke rahmatullah, aku meraung seperti orang kesurupan, aku tidak Terima, aku tampar laki-laki yang membonceng adikku,begitu juga ayah, emosinya tidak bisa dikendalikan. Dewi anak yang paling dia kasihi, meninggalkan Dunia dengan tragis. 

Dewi dibawa ke peristirahatan terakhirnya, sepulang dari sanalah semua kehidupan kami berubah, ayah terus menyalahkan mama, ayah memojokkan mama, karena mama menyekolahkan Dewi di kota. 

Ayah sudahlah, "kataku ini sudah takdir, aku, kakak dan abang saja, sekolah di kota, aman saja, nggak ada masalah. Karena itu sudah takdir Allah. Jangan menyalahkan siapapun atas semua kejadian ini. Jangan pernah ayah, " mohonku kepada Ayah. 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, mamaku yang merasa terpojok, dengan hati yang kecewa, mama mau berangkat umrah, ucap mama saat itu. Mama jangan begitu,kami tahu semua bukan salah mama. 

Aku tau mama selalu menahan rasa sakit hatinya, selama ini mama mendiamkan semuanya. Semua demi menjaga keutuhan keluarga kami. 

Tahun 1999 mama pun berangkat umrah, dia berangkat sendiri tanpa ayah. Karena hubungan mereka berdua sudah mulai retak sejak kematian adikku. 

Ayahpun kembali ke kampung tempat dia bekerja,tanpa pembicaraan tanpa kehangatan keluarga, aku sudah mulai merasakan hal itu, semua berubah.

Mama berangkat, dengan membawa hati yang lara, memandang ka'bah mungkin akan menghilangkan semua rasa sakit di hatiku. Mama melangkah dengan hati bahagia, di sana dia melihat wajah Dewi, tersenyum. 

2 tahun mama tidak balik ke Indonesia, mama bekerja menjadi TKW di kota Mekkah, merawat orang tua jompo, menjadi baby sister.Aku yang mengurus kebutuhan kami sekeluarga, dibantu kakak tertuaku,kami ber3 adik bungsuku, menanti mama dengan penuh kerinduan. 

Ya Allah kenapa jadi seperti ini keadaan keluargaku, haruskah aku menjadi anak broken home. Aku menangis, dan rasa benciku terhadap sosok ayah mulai muncul. 

Ayah jahat, ayah selalu menyakiti hati mama, ucapku. Karena aku memang tipikal anak yang keras dan memiliki ego yang tinggi, aku tidak akan memaafkan ayah, ucapku dalam hati. 

Suatu hari aku mendengar, ayahku menikah lagi, betapa kecewa hatiku, udah nggak ngurus kami, eh malah menikah lagi. Padahal kami punya rencana, mau memberangkatkan ayah umrah juga. 

Tapi itulah takdir yang terjadi, ayah memilih untuk mencari kesenangan sendiri.Ayah, "bentakku kenapa ayah tega, melakukan ini. Kenapa ayah tidak menyadari kesalahan ayah, dengan hati dongkol aku, menggoyang mesin jahit yang ada didepanku. 

Mamamu katanya menikah, "jawab ayah! Ayah nggak bisa mikir ya, mama aja nggak cerai sama mama,kok bisa nikah, dari mana cerita seperti itu,sahutku dengan nada kesal.

Ayah sudah tua, masa nggak bisa mikir, menuduh tak berdasar. Kami tak Terima ayah menyakiti ibu. Semalaman aku tak keluar dari kamarku, tidak makan, aku kesal. Pagi itu aku berangkat kerja, dan tidak menyapa ayah sama sekali. 

Aku makan di kantin tempat aku bekerja. Aku memang tidak pernah bercerita dengan orang lain, semua rasa ku pendam sendiri, hanya kepada Allah saja aku bercerita. Tuhan inikah jalan hidupku, inikah keadaan yang harus aku hadapi, ya Allah apa salah kami. Hingga sedikit demi sedikit kasih sayang kami kau hancurkan begitu saja. Dengan keegoisan orang tuaku. 

Hari berlalu begitu saja tanpa kepastian, akupun sudah tidak betah lagi tinggal di rumah kami, muak dan bosan. Aku balik lagi ke palangkaraya, membawa sejuta kecewa dan luka.

Mau kemana tanya ayah? "Pergi sahutku ketus, aku mau pergi dari rumah orang gila, sambil memperlihatkan wajah cemberut. Adikku yang masih kecil, tidak mengerti apa-apa. Dia diam saja. 

Aku nggak mau ngurus ayah, " Ucapku, akupun berangkat tanpa bicara sepatah katapun. Dengan hati yang gundah, takut dengan kenyataan yang akan di hadapi nanti. 

Mama, aku rindu mama, kapan mama pulang ke Indonesia, suatu hari aku menelpon mama, aku mau lanjut kuliah, aku bosan pintaku. Ok, sahut mama di seberang belahan bumi, di kota Mekkah. 

Mama, aku minta maaf ya, mama pasti sudah dengar, kalau ayah menikah lagi.Biarlah, "sahut mama, biarkan dia dengan hidupnya sendiri. Akhirnya tahun 2001 mama balik ke Indonesia. Sebenarnya mama sudah bisa menerima, karena sudah biasa dengan rasa sakit, jadi rasa sakit itu sudah hilang. 

Akhirnya mama balik ke Indonesia, dan berkumpul dengan kami lagi,aku bahagia melihat mama bahagia, bagiku mama adalah segalanya, aku mungkin akan mati tanpa mama. Tanpa berita, tanpa ungkapan mereka bercerai begitu saja, tanpa penyerahan secara resmi, mama kini hidup sendiri. 

Tapi mama bahagia, biarlah apa yang sudah terjadi, semoga mama selalu bahagia. Sehat selalu wanita tegar, sehat selalu penyemangat hidup kami. Bahkan aku berdo'a ingin mati sebelum ibuku, aku ingin beliau yang memandikan jenazahku, mengapaniku. Membisikkan kalimat takbir ditelingaku. Mama kami anak-anakmu belum bisa membahagiakanmu. Semoga mama sehat dan panjang umur. Wanita terkuat. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

DUKUH MANGGANA DAN IKAN TAMPAHAS THE LEGEND OF SERUYAN RIVER