Asal mula gelar bawi kuwu
Kekhawatiran orang tua terhadap anak gadisnya menyebabkan raja, mengurung anak gadisnya.Putrinya selalu dilayani oleh para pelayan dan pengasuhnya. Karena bawi kuwu adalah gadis yang sangat cantik, dan kecantikan bawi kuwu terkenal sampai ke seluruh pelosok negeri.
Sebuah kampung , sekitar aliran Sungai Rungan
tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit, tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya. Ketika beranjak devasa wanita cantik itu dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun lamanya.
Pada suatu ketika, kedua orangtua Bawi Kuwu ingin pergi keladang lalu berpesan kepada
dayang-dayang untuk menjaga anak kesayangan mereka di dalam rumah. Tidak lama setelah kedua orangtuannya itu pergi, tiba- tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan ingin mandi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka, tentu para dayang yang mengaval Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar
rumah, apalagi untuk pergi sendiri ke sungai.para dayang-dayang itu mengambilkan air di sungai Rungan untuk memandikan Bawi Kuwu di dalam rumah, keinginan dari para dayang itu ditolaknya dan tetap bersikeras untuk pergi sendiri kesuangai itu. Suasana hampir tidak terkendali tetapi akhirnya para
dayang berhasil mencegah keinginan Bawi Kuwu tersebut.
Rupanya perlakuan dari para dayang itu malah membuat Bawi Kuwu merasa penasaran. Setelah melihat situasi aman dan lepas dari pengawalan, Bawi Kuwu pergi ke Sungai Rungan dengan diam-diam tanpa ada yang tahu. Sesampainya di tepi sungai, tepatnya diatas Lanting (rakit dari kayu dalam bahasa suku dayak) kejadian naas menimpa gadis cantik itu. Tiba-tiba buaya besar muncul ke permukaan air dan menyambar Bawi Kuwu yang belum sempat mandi di sungai itu, lalu membawannya ke sarangnya di dalam sungai. Sementara itu situasi di dalam rumah geger setelah para dayang menyadari bahwa Bawi Kuwu tidak ada didalam kamar. Kemarahan besar muncul dari kedua orangtua Bawi Kuwu kepada dayang-dayang, karena telah lalai sehingga mereka tidak mengctahui kemana perginya anak kesayangan mereka itu. Lalu hari itu juga mereka memanggil para tokoh adat dan
orang-orang yang memiliki kesaktian dari suku Dayak.
Tiga hari tiga malam lamanya, mereka mengadakan ritual dalam suku dayak untuk mencari Bawi kuwu, dan pada suatu malam, saudara laki-laki dari Bawi Kuwu bermimpi bertemu dengan Patahu (orang gaib suku dayak) dan memberikan petunjuk bahwa Bawi Kuwu masih hidup dan sekarang berada didalam perut buaya yang telah membawannya itu. Orang gaib itu juga berpesa apabila buaya itu muncul,
jangan sekali-kali membunuhnya. Lalu saudaranya itu terbangun dari tidur dan menccritakan tentang mimpinya itu. Ketika itu juga mereka mencari Pangareran (Pawang buaya dalam bahasa suku dayak), dan tepat pada hari ketiga dalam ritual itu, buaya yang membawa Bawi Kuwu muncul dari Sungai
Rungan lalu bergerak menuju daratan. Setelah melihat buaya besar itu datang, tiba-tiba rasamenyayangi adiknya membuatnya kalap dan lupa akan pesan orang gaib yang menjumpainya didalam mimpi, lalu ia menombak buaya itu sehingga akhirnya mati. Setelah melihat kejadian itu, mereka langsung membelah perut buaya dengan peralatan seadanya dan mendapati Bawi Kuwu yang juga sudah tidak bernyawa lagi, mati bersama-sama dengan buaya itu. Akhirnya suasana duka menyelimuti seluruh kerabat dan semua yang menyaksikan peristiwa tersebut.
Tulang belulang Bawi kuwu dikumpulkan, dan dibuat sandung untuk menghormati Bawi kuwu. Sehingga menjadi kepercayaan budaya adat Kaharingan di Kalimantan Tengah.
Komentar
Posting Komentar