Antara Cinta dan Sajadah
ANTARA CINTA DAN SAJADAH
BAB 1: Pertemuan di Batas Waktu
Hujan turun dengan deras ketika Arif berlari mencari tempat berteduh di teras sebuah masjid tua. Di sana, di sudut yang remang-remang, ia melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk menunggu hujan reda. Wanita itu sedang memegang Al-Qur’an, wajahnya teduh, seakan dunia di luar sana yang gaduh tak sedikit pun mengganggunya.Namanya Aisyah.dia adalah seorang gadis cantik, anak seorang pengusaha sukses. Anak yang berbakti, yang sangat disayangi kedua orang tuanya.
Aisyah sedang membaca Alquran dengan suara pelan,suara yang syahdu dan menusuk hati pendengarnya. Arif mendengarkan bacaan Alquran dengan hati bergetar. Dalam hati Arif berucap, "akankah aku bisa mendapatkan gadis cantik yang solehah, " ucapnya. Khayalan tentang Aisyah, menghiasi isi kepalanya.
Pertemuan singkat itu menancap kuat di hati Arif. Ada sesuatu yang berbeda dari Aisyah. Bukan hanya kecantikannya, tapi ketenangan yang terpancar dari setiap gerak-geriknya. Sejak saat itu, masjid bukan lagi sekadar tempat untuk menunaikan kewajiban shalat bagi Arif, melainkan juga tempat di mana harapannya bertemu kembali dengan sosok itu.
Namun, Arif sadar. Ia bukanlah sosok yang sempurna. Ia masih sering lalai, masih sering tergoda oleh duniawi, sementara Aisyah bagaikan cahaya yang selalu berjalan di jalan yang lurus.Arif adalah seorang pemuda yang tampan, tetapi sikapnya yang buruk, dan hobbynya minum judi dan berfoya-foya. Membuat hati Arif menjadi minder. Namun Arif berniat, untuk memperbaiki dirinya, agar bisa mendapatkan Aisyah.
Arif hanya bisa memandang sang pujaan hati dari kejauhan. Berharap doa-doanya terkabulkan.
BAB 2: Cinta yang Mengubah
Ketika keberanian akhirnya terkumpul, Arif menyampaikan isi hatinya. Aisyah tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Cinta itu ibarat membangun masjid, Mas. Fondasinya harus kuat, dan atapnya adalah takwa. Jika cinta itu membawa kita lebih dekat kepada-Nya, maka itu adalah cinta yang berkah."
"Kalau hanya cinta sesaat, " ujar Aisyah, "maka hal itu tak akan lama. Cinta itu bukan sekadar hawa nafsu, tetapi ada tanggungjawab yang harus diperjuangkan, untuk mencapai cinta yang diridhoi oleh Allah mas, " ujar Aisyah.
Hati Arif menjadi berbunga-bunga, dengan tekad yang kuat Arif mulai mengubah kebiasaan lamanya. Arig lebih sering menghabiskan waktu untuk mendalami ilmu agama. Di sela-sela kesibukannya.
Kalimat itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Arif. Ia sadar, untuk bisa berdiri sejajar di samping Aisyah, ia harus memperbaiki dirinya.
Malam-malam yang dulu dihabiskan untuk begadang tanpa arah, kini berubah menjadi waktu di mana Arif mulai rajin mengangkat tangan, memanjatkan doa di atas sajadah yang mulai lusuh karena sering dipakai. Ia belajar mengatur nafas, belajar menundukkan pandangan, dan belajar memahami bahwa mencintai seseorang bukan berarti memiliki sepenuhnya, melainkan mendoakannya dalam sujud.Cinta kepada Aisyah menjadi jembatan bagi Arif untuk kembali mencintai Penciptanya.
Perubahan Arif membuat hati sang punya hati melunak, Aisyah mulai membuka hati kepada Arif, walaupun belum sepenuhnya. Karena Arif yang terkenal bejat, membuat semua orang tidak percaya Arif bisa berubah.
Namun manusia dalam kendali Allah, tidak seorang manusia pun yang bisa memberi hidayah, kecuali diri kita sendiri, itulah usaha dan harapan Arif dalam mendapatkan hidayah Allah. 360 derajat perubahan yang dirasakan.
BAB 3: Ujian Kesetiaan
Namun, jalan menuju ridha tidak pernah semulus yang dibayangkan. Ayah Aisyah adalah seorang pengusaha yang sangat konservatif. Ia menginginkan menantu yang sudah mapan secara materi dan agama secara sempurna. Sementara Arif hanyalah seorang pemuda biasa yang baru saja berusaha bangkit.
"Kau belum cukup untuk putriku," kata Ayah Aisyah dengan nada dingin. "Cinta saja tidak cukup untuk makan dan masa depan."
Arif terpukul. Ada rasa sakit yang menusuk. Ia ingin menyerah, ia ingin pergi menjauh. Namun saat ia melihat sajadahnya, ia teringat pesan Aisyah. "Jika cinta itu benar, ia tidak akan memintamu berhenti berharap pada Allah."
Aisyah pun tidak diam. Ia berbicara pada ayahnya dengan lemah lembut namun tegas. "Ayah, lihatlah perubahannya. Seorang hamba yang bisa berubah karena cinta, ia akan bisa menjaga amanah dengan baik."
Di tengah tekanan duniawi, di antara pertemuan dan perpisahan, Arif dan Aisyah memilih untuk menjaga hati mereka tetap di atas sajadah. Komunikasi mereka terbatas pada hal-hal yang baik, pertemuan mereka selalu dalam kebaikan. Mereka membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh subur tanpa harus melanggar batas halal.
BAB 4: Saat Dua Sajadah Bersatu
Tiga tahun berlalu. Arif bukan lagi pemuda yang sama. Kerja kerasnya dan doa-doa panjangnya membuahkan hasil. Ia kini memiliki pekerjaan yang layak, dan lebih dari itu, imannya kini jauh lebih kokoh.
Di sebuah sore yang indah, Arif datang kembali. Kali ini bukan dengan tangan kosong. Ia membawa keyakinan dan keberanian.
"Ayah, Ibu," suara Arif tegas. "Saya tidak menjanjikan harta yang tak terbatas. Tapi saya berjanji, saya akan menjaga Aisyah sebagaimana Rasulullah menjaga istri-istrinya. Saya akan mengajaknya bersujud bersama, membangun keluarga yang dilingkari oleh malaikat."
Ayah Aisyah menatap mata pemuda itu. Ia melihat ketulusan yang tak bisa dibohongi. Ia melihat cahaya yang dulu tidak ada, kini bersinar terang.Akad nikah pun dilangsungkan. Di hadapan saksi dan Allah SWT, ikatan itu terjalin.
Saat pertama kali Arif menggenggam tangan Aisyah sebagai istri yang halal, mereka berdua langsung menuju ruang tengah. Di sana, mereka membentangkan dua lembar sajadah bersanding.
Mata Aisyah berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas. Karena cintanya mengajarkanku semakin mencintai Allah."
Aisyah,"aku juga berterimakasih kepada mu, dengan keyakinan mu, dan do'a-do'amu, Allah mengijabahkan semuanya. "ujar Arif sambil mencium sang istri.
Arif tersenyum, "Bukan aku yang hebat, tapi engkaulah yang menjadi perantaranya. Cinta kita berawal dari-Nya, dan akan berakhir karena-Nya."
PENUTUP
Cinta sejati bukanlah yang membuatmu lupa pada Tuhan, melainkan yang selalu mengingatkanmu untuk kembali pada-Nya. Di antara detak jantung yang berpacu dan sujud yang panjang, di situlah letak cinta yang paling abadi.
Cinta yang tidak pernah memisahkanmu dari sajadah, melainkan yang mendekatkanmu terus menerus hingga akhir hayat.
TAMAT
Apakah kamu ingin cerita ini dilanjutkan dengan bab-bab tentang kehidupan rumah tangga mereka nanti?
Komentar
Posting Komentar