CINTA DAN HARAPAN UNTUK INDONESIA DI MASA KINI
Hari ke -27
Di Setiap Kata yang Tertulis, Terselip Doa untuk Negeri yang Sedang Berjuang
Pendahuluan
Di sudut kecil negeri ini, di tepian sungai yang tenang di Seruyan Hulu, Kalimantan Tengah, tangan ini tak pernah lelah memegang pena. Bukan untuk mencari nama, bukan pula untuk mengejar pujian. Setiap kali ujung pena menyentuh kertas, setiap kali jari-jari menari di atas papan ketik, ada satu hal yang selalu menyertai setiap kata: cinta dan doa. Ya, di setiap kata yang kutulis, ada cinta untuk Indonesia, dan ada harapan untuk negeri ini di masa kini.
Menulis bagi saya bukan sekadar merangkai huruf menjadi kalimat, lalu merangkai kalimat menjadi paragraf. Bagi saya, menulis adalah cara mencintai tanah air, cara menyampaikan harapan, dan cara paling tulus untuk berkontribusi bagi negeri tercinta ini negeri yang kini sedang berjalan di masa yang penuh tantangan sekaligus harapan. Sebuah pena yang sederhana, dari tangan seorang guru di pelosok desa, ternyata mampu menyampaikan cinta dan harapan yang sama besarnya dengan harapan siapapun yang berjuang di manapun di tanah air ini.
Indonesia adalah rumah kita bersama. Sebuah rumah yang luas, yang dihuni oleh ratusan suku, ribuan bahasa, dan jutaan hati yang beragam. Namun di balik perbedaan itu, di tengah segala peristiwa yang kita saksikan dan alami bersama di masa kini, ada satu ikatan yang tak pernah putus: rasa cinta pada tanah air, dan harapan agar negeri ini senantiasa menjadi tempat yang baik untuk kita semua. Dan menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menyatukan rasa cinta itu, untuk menguatkan hati yang sedang goyah, dan untuk menyalakan kembali semangat yang sempat redup. Karena setiap kata yang lahir dari hati yang tulus, pasti akan sampai ke hati-hati lain yang juga mencintai Indonesia dan berharap yang terbaik untuknya.
Isi
Cinta dan Harapan di Tengah Realita Negeri
Seringkali kita berpikir, untuk menunjukkan cinta pada Indonesia kita harus menjadi pejabat, menjadi pengusaha besar, atau menjadi tokoh terkenal. Kita berpikir bahwa hanya orang-orang dengan kekuasaan dan harta yang banyak yang bisa membawa harapan bagi bangsa. Padahal, setiap orang punya peran yang sama berharganya. Dan peran saya, peran yang saya pilih dengan sepenuh hati, adalah menulis menulis dengan cinta, menulis membawa harapan.
Saat ini, Indonesia sedang berada di masa yang tak mudah. Kita melihat perekonomian yang masih berjuang pulih, harga kebutuhan yang sering kali terasa berat bagi rakyat kecil, ketimpangan antara kota dan desa yang masih nyata, serta bencana alam yang datang silih berganti di berbagai penjuru negeri. Kita juga menyaksikan perbedaan pandangan yang kadang memisahkan, berita yang belum tentu benar menyebar begitu cepat, dan rasa saling percaya yang mulai menipis di antara kita. Banyak orang merasa lelah, kecewa, bahkan mulai ragu apakah negeri ini akan menjadi lebih baik. Namun justru di saat seperti inilah, cinta dan harapan menjadi hal yang paling dibutuhkan dan tulisan menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikannya.
Di kelas, saat mengajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, saya tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Saya menanamkan nilai-nilai kebajikan, rasa syukur, dan cinta tanah air di tengah keterbatasan yang kita rasakan bersama. Lewat tulisan-tulisan di papan tulis, lewat cerita-cerita yang saya sampaikan, saya ingin setiap siswa paham bahwa menjadi orang Indonesia itu sebuah anugerah bahkan di masa sulit sekalipun. Bahwa kita lahir di negeri yang kaya raya, namun kekayaan terbesarnya bukanlah emas atau minyak bumi, melainkan hati rakyatnya yang saling menghargai dan tetap bertahan bersama. Saya ingin mereka tumbuh dengan cinta yang tulus pada tanah air, dan harapan yang tak pernah padam bahwa kita bisa melewati segala sesuatu bersama-sama.
Saat sore hari tiba, saat sekolah telah sepi dan suara riuh anak-anak mereda, saya kembali menulis. Di buku harian, di artikel-artikel, di cerita-cerita yang saya buat untuk dibagikan kepada warga desa maupun pembaca yang lebih luas. Saya menulis tentang keindahan sungai Seruyan yang tetap mengalir tenang meski dunia di luar sana begitu berisik, tentang keramahan penduduknya yang tetap saling berbagi walau kebutuhan sendiri pun belum cukup, tentang harapan anak-anak desa yang tetap bermimpi besar meski jalan menuju mimpi itu masih jauh dan berbatu. Saya menulis tentang keberagaman yang hidup berdampingan, tentang toleransi yang tumbuh alami di tengah masyarakat yang sederhana, tentang semangat gotong royong yang masih hidup di kampung-kampung nilai-nilai yang kini mulai luntur di tempat lain, namun justru itulah yang paling dibutuhkan Indonesia di masa kini.
Dan di setiap tulisan itu, terselip cinta yang mendalam dan harapan yang tulus. Harapan agar perekonomian negeri segera membaik dan keadilan benar-benar dirasakan semua orang. Harapan agar sungai dan hutan kita tetap terjaga dari kerusakan yang makin nyata. Harapan agar anak-anak tetap bisa bersekolah walau biaya semakin berat. Harapan agar kita tidak terpecah belah oleh perbedaan pendapat dan berita bohong. Harapan agar pemimpin dan rakyat berjalan seiring membangun negeri yang adil dan makmur. Di setiap kata, ada cinta dan harapan untuk Indonesia di masa kini.
Harapan yang Menjadi Benih di Tengah Ketidakpastian
Ada kekuatan luar biasa dalam sebuah tulisan yang lahir dari cinta dan harapan. Kata-kata yang kita tulis hari ini, bisa menjadi benih yang tumbuh menjadi pohon besar di masa depan, bahkan di tanah yang sedang kering sekalipun. Bisa menjadi api yang menyalakan semangat orang lain yang mulai padam. Bisa menjadi jembatan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, satu suku dengan suku lain, satu hati dengan hati yang lain di saat banyak hal justru memisahkan kita.
Saya pernah menulis tentang suka dan duka menjadi pendidik di daerah terpencil, tentang kesalahpahaman yang pernah terjadi, hingga pengorbanan yang saya lakukan demi kebaikan anak-anak. Saya tulis bukan untuk mengeluh, bukan untuk mencari simpati. Saya tulis agar orang lain paham bahwa menjadi bagian dari Indonesia di masa kini berarti juga merasakan beratnya beban bersama, namun beban itu akan menjadi ringan jika kita saling menguatkan dan tetap menyimpan harapan. Bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil dengan niat tulus entah itu mengajar, menulis, bekerja, atau sekadar berbuat baik kepada sesama pasti akan bermanfaat, entah sekarang atau kelak, apalagi di masa-masa yang penuh ujian seperti sekarang.
Tulisan itu dibaca oleh orang-orang yang tak saya kenal. Ada yang memberi pesan dukungan, ada yang terinspirasi untuk juga melakukan hal serupa di tempat mereka berada, ada yang merasa tidak sendirian dalam perjuangannya. Saat itulah saya sadar: sebuah kata yang lahir dari cinta dan harapan, bisa menembus jarak dan waktu, bisa menembus keraguan dan keputusasaan. Ia bisa sampai ke tempat yang kaki kita tak mampu jangkau, dan menyentuh hati yang tak pernah kita temui. Itulah keajaiban menulis untuk Indonesia, terutama di masa kini saat negeri ini sedang membutuhkan harapan paling banyak.
Cinta yang Menyatukan di Saat Perbedaan Mengancam
Indonesia itu seperti pelangi. Berwarna-warni, indah karena perbedaannya. Namun pelangi itu tetap satu, di bawah langit yang sama. Begitu pula kita dan justru di masa kini, ketika perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling bermusuhan, ketika berita yang belum tentu benar lebih cepat dipercaya daripada kebenaran, persatuan menjadi hal yang paling mahal harganya. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu. Ada yang berbahasa Jawa, Sunda, Dayak, Batak, dan ratusan bahasa lainnya. Ada yang tinggal di kota besar yang sibuk dan penuh persaingan, ada yang tinggal di desa-desa yang tenang namun semakin tertinggal. Semua berbeda, namun semua adalah Indonesia. Semua merasakan dampak yang sama dari perubahan zaman, dan semua berharap hal yang sama: negeri yang lebih baik.
Lewat tulisan yang lahir dari cinta, kita bisa saling mengenal kembali. Saya yang tinggal di pedalaman Kalimantan bisa menceritakan bahwa di sini orang berbeda keyakinan tetap duduk bersama dalam musyawarah desa, tetap saling membantu saat tetangga sakit atau meninggal dunia. Teman-teman di kota bisa bercerita tentang perjuangan mereka membangun usaha dan membantu sesama walau di tengah tekanan ekonomi. Lewat tulisan, kita belajar bahwa perbedaan itu bukan alasan untuk saling menjauh, apalagi saling menjatuhkan melainkan alasan untuk saling melengkapi, karena satu orang atau satu daerah saja tidak akan mampu mengangkat Indonesia sendirian. Bahwa kita adalah satu keluarga besar, yang tinggal di rumah bernama Indonesia, dan rumah ini hanya akan kokoh jika kita semua saling memegang tangan dengan cinta.
Setiap kali saya menulis tentang keberagaman, saya berharap: "Semoga tulisan ini menjadi jembatan di saat banyak orang membangun tembok. Semoga menguatkan persaudaraan di saat ada yang berusaha memecah belah. Semoga mengingatkan kita bahwa kita punya satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan terlepas dari segala perbedaan yang ada." Karena itulah, di setiap kata yang saya susun, saya selalu berhati-hati. Saya pastikan tidak ada kalimat yang menyakiti, tidak ada kata yang membeda-bedakan, tidak ada tulisan yang menambah beban hati orang lain. Karena bagi saya, menulis untuk Indonesia di masa kini berarti menulis dengan cinta, untuk persatuan, dan untuk mengingatkan kita kembali pada janji kemerdekaan yang belum sepenuhnya terwujud.
Tetap Mencintai, Tetap Berharap
Banyak cara untuk mencintai negeri ini, bahkan di saat negeri ini belum sempurna. Ada yang berjuang dengan senjata di masa lalu, ada yang berjuang dengan kebijakan di masa kini, ada yang berjuang dengan pengabdian tanpa pamrih di tempat-tempat yang terlupakan. Dan saya memilih berjuang dengan pena menulis dengan cinta, menulis membawa harapan. Bukan untuk menutupi kekurangan negeri, tapi untuk mengingatkan kita semua agar tetap mencintainya dan berjuang bersama memperbaikinya.
Menulis tentang kebaikan yang masih ada di sekitar kita, agar kebaikan itu bertambah dan tidak kalah oleh keburukan yang makin terlihat. Menulis tentang kekurangan yang perlu diperbaiki ketimpangan, ketidakadilan, kerusakan alam bukan untuk menghina, tapi agar kita semua bergerak bersama memperbaikinya, karena kita mencintai negeri ini dan berharap yang terbaik untuknya. Menulis tentang impian-impian anak bangsa, agar impian itu kelak menjadi kenyataan dan tidak hanya menjadi harapan kosong. Semua itu adalah bentuk cinta. Semua itu adalah bentuk harapan, terutama di masa kini ketika banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada negerinya sendiri.
Saya tidak tahu seberapa jauh tulisan-tulisan ini akan sampai. Saya tidak tahu berapa orang yang akan membacanya dan berapa yang akan tergerak. Namun satu hal yang saya tahu: setiap kata yang lahir dari cinta dan harapan, pasti dicatat oleh sejarah. Sejarah bangsa ini tidak hanya ditulis oleh para pemimpin besar, tapi juga ditulis oleh ribuan tangan kecil yang setia — guru, petani, pemuda, ibu rumah tangga, penulis, dan setiap orang yang tetap mencintai negerinya dalam diam, dalam karya, dalam harapan, bahkan di masa yang paling sulit sekalipun.
Penutup
Kepada seluruh penulis, pendidik, pemuda, dan seluruh anak bangsa di manapun Anda berada: di tengah segala peristiwa yang sedang kita hadapi bersama di masa kini, teruslah menulis. Teruslah berkarya. Teruslah berbuat baik. Tetaplah mencintai negeri ini, dan tetaplah berharap. Jangan pernah merasa tulisan Anda terlalu kecil, perbuatan Anda terlalu sederhana, untuk mengubah sesuatu. Karena setetes air pun, jika terus mengalir, bisa membasahi bumi yang kering. Sebuah kata yang lahir dari cinta dan harapan, jika terus ditulis dan disampaikan, bisa mengubah arah hati orang-orang, dan akhirnya mengubah arah sejarah bangsa.
Mari kita tulis kisah Indonesia bukan kisah keputusasaan, tapi kisah cinta yang tak pernah pudar dan harapan yang tak pernah padam. Kisah yang jujur tentang keadaan kita, namun tetap penuh semangat untuk menjadi lebih baik. Kisah yang tak menutupi kekurangan, namun selalu menyoroti cahaya yang masih ada di setiap sudut negeri. Dan di setiap kata yang kita rangkai, selipkanlah cinta dan harapan. Cinta untuk damainya negeri yang sedang diuji. Harapan untuk cerdasnya generasi yang akan meneruskan perjuangan. Cinta dan harapan untuk berkahnya tanah air yang kita pijak ini, agar kelak benar-benar menjadi negeri yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur bagi seluruh rakyatnya.
Karena percayalah: di setiap kata yang kita tulis dengan cinta dan harapan, di sanalah doa-doa kita terbang, menyatu dengan angin nusantara, dan membawa berkah untuk Indonesia tercinta di masa kini, esok, dan selamanya.
Teruslah menulis, teruslah mencintai, teruslah berharap. Karena Indonesia kita, layak mendapatkan cinta dan harapan terbaik dari hati terbaik kita.
Seruyan Hulu, Minggu 13 September 2026
Nani Suryani. S. Pd. I. Gr

Mamtap dan lanjutkan mrnulis setiap hari
BalasHapus