UNTAIAN DO'A UNTUK INDONESIA

Hari ke-24

Di Setiap Kata, Ada Doa untuk Indonesia



PENDAHULUAN

Setiap kali jari menyentuh layar atau pena menyentuh kertas, ada sesuatu yang lebih dalam sekadar rangkaian huruf yang terbentuk. Ada napas, ada perasaan, dan di atas segalanya  ada doa. Doa yang terbungkus rapi di balik setiap kata, terselip di antara setiap kalimat, dan tercurah tulus di setiap paragraf yang selesai ditulis. Bagi sebagian orang, menulis hanyalah kegiatan menuangkan pikiran. Namun bagi saya, menulis adalah berdoa. Berdoa dengan cara yang berbeda, dengan bahasa yang sederhana, namun dengan harapan yang sama besarnya: agar negeri ini semakin baik, semakin kuat, dan semakin diberkahi.

Saya berdari dari Seruyan Hulu, Kalimantan Tengah  sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, di mana sinyal internet kadang datang dan pergi, di mana akses belum selancar di kota besar. Di sinilah saya mengajar, mendidik anak-anak, dan di sela-sela kesibukan itu, saya menulis. Bukan dengan fasilitas mewah, bukan dengan waktu yang selalu luang, melainkan dengan sisa tenaga dan ketenangan hati di tengah keterbatasan. Dan justru di sinilah saya menyadari satu hal yang paling berharga: kita tidak harus berada di tempat besar untuk mendoakan hal-hal yang besar. Dari manapun kita berdiri, dengan apapun yang kita miliki, doa kita untuk negeri ini sama didengarnya.

Menulis adalah cara saya berdoa untuk Indonesia. Setiap kata yang tertuang adalah harapan agar anak-anak negeri ini tumbuh cerdas dan berbudi luhur. Setiap kalimat yang tersusun adalah permohonan agar perbedaan yang ada di bumi pertiwi ini bukan menjadi alasan untuk berselisih, melainkan menjadi kekuatan yang menyatukan kita. Setiap paragraf yang rampung adalah doa agar Indonesia senantiasa diberkahi, damai, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Di setiap kata, ada doa untuk Indonesia. Itulah niat yang selalu saya tanam sebelum mulai menulis — dan dengan niat itu, kata-kata sederhana pun menjadi sesuatu yang bermakna bagi negeri.

 ISI

Kata sebagai Doa, Tulisan sebagai Sumbangsih

Sering dikatakan bahwa doa adalah senjata orang beriman  dan menulis bagi saya, adalah salah satu bentuk doa itu. Ketika kita menulis tentang kebaikan, kita sedang mendoakan kebaikan itu tumbuh di negeri ini. Ketika kita menulis tentang persatuan, kita sedang berdoa agar ikatan persaudaraan di antara kita semakin kuat. Ketika kita menulis tentang harapan, kita sedang berdoa agar tidak ada satu pun warga negeri ini yang kehilangan harapannya. Kata-kata itu tidak hanya terbaca oleh mata, namun diharapkan juga sampai ke hati dan jika hati seseorang berubah menjadi lebih baik, maka itulah jawaban atas doa yang terselip di balik tulisan itu.

Selama berbulan-bulan saya menulis lebih dari satu juta kata, melahirkan dua belas novel dari tempat yang sederhana ini. Ada kalanya tangan terasa lelah, ada kalanya semangat sempat turun, ada kalanya keraguan datang: "Apakah tulisan ini ada gunanya? Apakah ada yang benar-benar merasakan doa di balik kata-kata ini?" Namun setiap kali keraguan itu datang, saya teringat wajah anak-anak didik saya. Saya teringat mereka yang tetap bersemangat meski ruangan belum layak, yang tetap tersenyum meski jalan menuju sekolah masih berbatu dan di saat itulah saya sadar: doa tidak harus selalu terjawab dengan gemetar langit. Kadang ia terjawab dengan seseorang yang tetap berjuang, tetap bermimpi, dan tetap tidak menyerah. Dan jika tulisan saya mampu menyemangati satu orang saja untuk terus melangkah — maka doa di balik kata-kata itu sudah sampai dan berbuah.

Menulis dengan doa berarti menulis dengan jujur dan tulus. Tidak menipu, tidak memuji berlebihan, tidak menjatuhkan pihak lain. Menulis dengan doa berarti setiap kata yang keluar membawa tanggung jawab: apakah kata ini membawa kedamaian atau keributan, menyatukan atau memecah, membangun atau meruntuhkan. Sebagaimana doa yang tidak pernah berniat jahat kepada siapa pun, demikian pula tulisan yang lahir dari doa  ia selalu berniat baik, selalu berharap yang terbaik, dan selalu menginginkan kemaslahatan bersama. Itulah sebabnya tulisan yang lahir dari ketulusan, biasanya sampai lebih dalam ke hati pembacanya. Karena di sana bukan hanya kata-kata yang berbicara, melainkan niat baik yang menyertai setiap kalimat.

Menulis untuk Menyembuhkan, Menyembangkan, dan Menyatukan

Indonesia adalah negeri yang begitu luas dan beragam. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, ada ratusan suku, bahasa, dan budaya. Keberagaman ini adalah anugerah terindah yang kita miliki namun juga menjadi ujian terbesar: mampu kah kita tetap bersatu di tengah perbedaan itu? Di sinilah tulisan yang disertai doa memegang peranan yang sangat penting. Ketika kita menulis tentang keindahan budaya orang lain, kita sedang mendoakan agar rasa saling menghargai semakin tumbuh. Ketika kita menulis tentang kehidupan saudara kita di daerah lain, kita sedang berdoa agar jarak yang jauh tidak membuat hati menjadi jauh. Ketika kita menulis tentang keadilan dan kepedulian bagi mereka yang kurang beruntung, kita sedang berdoa agar negeri ini semakin adil dan merata.

Di era digital ini, kata-kata dapat menyebar dalam hitungan detik. Namun sayangnya, tidak semua kata yang tersebar membawa kebaikan. Ada kata yang memecah belah, ada yang menyebarkan kebencian, ada yang menumbuhkan curiga. Dan di tengah arus itu, kitalah  para penulis yang mencintai negeri ini  yang harus berdiri tegak dengan kata-kata yang penuh doa dan kebaikan. Satu kata yang baik mungkin tampak kecil di tengah lautan informasi yang luas, namun percayalah: satu lilin yang menyala mampu mengusir gelap di ruangan yang luas sekalipun. Demikian pula satu tulisan yang tulus dan penuh doa, mampu menyentuh hati yang mungkin sedang sepi, sedang ragu, atau sedang kehilangan arah.

Menulis dengan doa juga berarti menulis dengan kesadaran bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangan kita. Kita menyusun kata sebaik mungkin, kita berusaha menyampaikan pesan sejelas mungkin namun setelah itu, kita serahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Kita berdoa agar kata-kata itu bermanfaat, sampai ke hati yang tepat, dan menjadi jalan kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Itulah ketenangan yang diberikan oleh doa: kita tidak perlu cemas apakah tulisan kita dihargai atau tidak, dibaca atau tidak. Karena yang terpenting bukanlah pujian manusia, melainkan niat baik yang kita tanam di setiap kata  dan itulah yang kelak tidak akan pernah sia-sia.

Doa yang Tak Pernah Berhenti, Kata yang Tak Pernah Berakhir

Ada kalanya kita merasa lelah. Ada kalanya kita bertanya, apakah kata-kata ini benar-benar mampu mengubah sesuatu? Apakah dari tempat yang kecil ini, suara kita benar-benar didengar? Namun doa mengajarkan kita kesabaran. Sebagaimana benih yang ditanam tidak langsung tumbuh dalam semalam, demikian pula dampak dari kata-kata kita. Mungkin hari ini belum terlihat, bulan depan belum terlihat tapi percayalah, tidak ada satu pun kata baik yang tertulis dengan tulus yang akan hilang begitu saja. Ia tertanam di hati seseorang, tumbuh perlahan, dan pada waktunya akan mekar menjadi perbuatan baik yang lain. Itulah rantai kebaikan yang dimulai dari satu doa yang terselip di balik sebuah tulisan sederhana.

Setiap kali saya menulis, saya membayangkan negeri ini. Saya membayangkan anak-anak yang tumbuh dengan bahagia, sekolah yang nyaman untuk semua, orang-orang yang saling menghormati meski berbeda pendapat, dan kedamaian yang menyelimuti setiap sudut tanah air. Dan ketika kata-kata itu tertuang di layar, saya merasa seolah-olah saya sedang ikut serta membangun negeri itu  bukan dengan semen atau batu bata, melainkan dengan doa dan harapan yang terbungkus kata. Siapa pun bisa membangun dengan cara masing-masing. Dan bagi saya, inilah cara saya membangun: dengan pena, dengan tulus, dan dengan doa di setiap kata yang kutulis.

PENUTUP

Menulis bukan sekadar kegiatan menuangkan pikiran ke atas kertas atau layar gawai. Bagi saya, dan bagi siapa saja yang mencintai negeri ini, menulis adalah berdoa. Berdoa dengan cara yang sederhana, namun dengan harapan yang luas. Di setiap kata yang tertulis, terselip doa agar Indonesia semakin damai, semakin makmur, semakin diberkahi. Di setiap kalimat yang tersusun, terselip harapan agar kita semua semakin bersatu, semakin saling menyayangi, dan semakin berbakti kepada tanah air.

Saya hanyalah satu penulis kecil dari pedalaman Kalimantan, dengan pena sederhana dan hati yang penuh harap. Saya tidak tahu seberapa jauh tulisan ini akan sampai. Namun saya tahu satu hal dengan pasti: di setiap kata yang kutulis, ada doa untuk Indonesia  dan doa yang tulus, tidak akan pernah terputus oleh jarak, waktu, maupun keadaan. Ia akan sampai, karena ia lahir dari hati yang tulus, untuk negeri yang dicintai, dan diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Maka, mari kita terus menulis. Bukan untuk pujian, bukan untuk penghargaan, melainkan karena di setiap kata yang baik yang kita tulis  ada doa untuk negeri ini. Dan suatu hari nanti, ketika ribuan, jutaan doa itu bertemu di udara yang sama, di bawah langit Indonesia yang sama  percayalah, itulah yang akan mengangkat negeri ini ke tempat yang lebih tinggi.

Di setiap kata, ada doa untuk Indonesia. Dan doa itu, Insya Allah, akan selalu didengar.

Tentang Penulis:

Nani Suryani, S.Pd.I., Gr. Pendidik di Seruyan Hulu, Kalimantan Tengah. Percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan tulus adalah doa yang terbang untuk negeri tercinta.

 

 Seruyan Hulu, 10 September 2026

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU KATA UNTUK NEGERI, MARI BERKARYA UNTUK INDONESIA

GALI POTENSI UKIR PRESTASI