PUISI INI LAHIR DARI INSPIRASI FILM PESTA BABI























 NYANYIAN LUKA DARI PAPUA
 
Di ujung timur bumi pertiwi,
Dimana hutan masih memeluk langit,
Dimana sungai mengalir membawa cerita zaman,
Terdengar irama yang tak sembarang orang sanggup memahami. 
Nyanyian yang teranyam dari darah, air mata, dan debu tanah leluhur.
 
Tifa tak lagi berdentang untuk tarian syukur,
Suaranya kini menyelimuti senyap malam,
Menyuarakan every luka yang terpendam di rongga dada,
Setiap rindu yang terhalang pagar dan larangan,
Setiap nama yang lenyap tertelan sejarah yang tak mau berbicara jujur.
 
Kami menyanyi dalam bahasa yang kalian anggap asing,
Bahasa yang diajarkan pohon-pohon tua,
Bahasa yang diajarkan angin yang berhembus lewat celah bukit,
Bahasa yang diajarkan ombak yang memukul karang di tepi Samudra Pasifik.
Di dalamnya tersimpan hakikat hidup,
Di dalamnya tersimpan jiwa yang tak pernah mau mati.
 
Jangan sangka nyanyian ini lemah bagai daun yang tertiup angin,
Setiap suku katanya adalah tombak yang menusuk kesesatan,
Setiap nadanya adalah api yang takkan pernah padam,
Meski kami dipaksa diam, meski kami dipaksa tunduk,

Suara ini akan terus melayang di antara dahan dan awan,
Terbang tinggi melebihi sayap Cendrawasih,
mengalir deras melebihi arus Sungai Mamberamo,
Membawa pesan yang takkan ever pudar oleh waktu:
 Bahwa tanah ini bukan sekadar gumpalan tanah dan batu,

Bahwa hutan ini bukan sekadar kumpulan pohon dan ranting,
Bahwa kami bukan sekadar angka di dalam buku catatan,
Kami adalah jiwa yang hidup,
Kami adalah darah yang mengalir di dalam tubuh bumi ini,
Kami adalah bagian dari nafas semesta.
 
Nyanyian luka ini bukan semata ratapan,
Ia adalah sumpah yang terucap dari bibir yang pecah-pecah,
Ia adalah doa yang terpanjat dari hati yang retak,
Bahwa meski luka ini terus menganga,

Meski air mata terus mengalir membasahi tanah,
Kami takkan pernah berhenti menyanyi,
Kami takkan pernah berhenti berjuang,
sampai keadilan akhirnya berlabuh di pantai kami,

Sampai kedamaian akhirnya bertakhta di atas bukit kami,
Sampai luka ini akhirnya tertutup oleh senyum kebebasan.
 Dari tanah yang indah namun terbaring sakit,
ini nyanyian kami. 

Suara yang takkan pernah mati,
Suara yang takkan pernah dibungkam,
Suara dari ujung timur,
Suara yang berbisik dan berteriak di setiap hembusan nafas:
Kami ada. Kami hidup. Dan kami takkan pernah pergi.
 
 Tumbang Darap, 25 Mei 2026
Nani Suryani. S.Pd.I.Gr

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

Sebelum tulisan dipublikasikan kita proofreading,