Kerajaan Kejayah dan Perek Rango(legenda alam ghaib sungai mandahan)

 Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki yang tinggal di daerah Seruyan Hulu,yaitu sungai mandahan. Sungai mandahan identik dengan cerita sosok mahluk ghaib penghuni sungai mandahan, konon ceritanya sosok ini merupakan titisan dewa angin. 

Perek Rango adalah sosok mahluk ghaib penghuni sungai mandahan, yang memiliki kekuatan super.

Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami-istri yang tak jauh dari muara sungai mandahan. Suami istri tersebut bernama Nyai Rangkas dan Sakajang. Nyai Rangkas adalah keturunan mahluk ghaib, yang tinggal di daerah bukit Kajayah. 

Nyai Rangkas jatuh cinta dengan manusia biasa, maka Nyai Rangkas diusir dari Kerajaan Kejayah. Karena Nyai Rangkas sangat mencintai suaminya, rela meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan di sekitar muara sungai mandahan. 

Karena mereka berdua saling mencintai satu sama lain, sangat rukun dan bahagia. Dalam kebersamaan mereka saling tolong menolong, saling melengkapi kekurangan masing-masing. 

Setelah sekian lama berumah tangga, mereka merasa kesepian karena mereka belum dianugerahi keturunan, mereka menyadari ada yang kurang lengkap mengisi kebersamaan yang mereka bina selama ini. 

Agar bisa mendapatkan keturunan sepasang suami-istri berbagai usaha sudah dilakukan, minum jamu atau pun ramuan, namun sekian lama masih belum nampak hasilnya.

Hingga pada suatu malam  Nyai Rangkas bermimpi, ia akan mendapatkan keturunan yang dititiskan oleh dewa angin, namun dengan syarat ia harus melakukan tapa brata saat bulan purnama di sebuah batu besar di tepi sungai Mandahan sebelah hulu. 

Malam berganti siang, Nyai Rangkas terbangun dari tidurnya malamnya, dia keluar dari tempat tidur dan duduk termenung memikirkan mimpi yang dialami nya semalam. Kemudian dia keluar dari rumahnya dan melihat sekeliling pondoknya, dan kembali lagi ke dalam pondok dan duduk di samping suaminya. 

Nyai Rangkas memikirkan apa yang menjadi mimpinya itu, tak lama kemudian Sakajang suami Nyai Rangkas bangun dari tidurnya, dan ia pun menceritakan apa yang mimpikan tadi malam, bahwa untuk mendapatkan keturunan ia harus melakukan tapa. Mendengar cerita dari sang istri Sakajang ragu dan bimbang, untuk menentukan sikapnya. 

Disatu sisi ia juga menginginkan keturunan dan melihat istrinya bahagia dengan memperoleh keturunan yang dititiskan oleh dewa angin, namun hatinya resah dan gelisah, karena harus membiarkan istrinya untuk melakukan tapa sendirian di tengah hutan selama Sembilan hari Sembilan malam dan ia tidak ingin berpisah dengan istri tercinta Nyai Rangkas. 

Walaupun dalam waktu sebentar saja, Sebaliknya sang istri Nyai Rangkas sangat ingin melakukan ritual tersebut, dan ia merasa yakin bisa melakukan ritual tersebut dan melaksanakan pertapaan tersebut. Namun sayangnya sang suami  Nyai Rangkas tidak mengijinkan Nyai Rangkas pergi bertapa. 

Meskipun Nyai Rangkas meminta ijin berkali-kali kepada sang suami, agar memberikan ijin. Sampai pada suatu malam, di mana malam itu merupakan malam bulan purnama yang ditunggu oleh Nyai Rangkas. Ia pergi dengan Diam-diam di saat sang suami sudah tertidur lelap. 

Sambil mengendap-endap dia berjalan pelan-pelan, Nyai Rangkas meninggalkan sang suami menuju hutan dengan menyusuri tepi sungai  Mandahan. Nyai Rangkas mencari baru besar sebagai tempat pertapaan seperti dalam mimpinya. Malam itu cahaya bulan sangat terang akhirnya Nyai Rangkas bisa menemukan batu besar tersebut tanpa halangan dan rintangan. 

Setibanya Setibanya ditempa tujuan Nyai Rangkas mengelilingi batu besar tersebut untuk mencari jalan naik menoleh ke kiri dan tekanan serta sesekali membalikkan badan untuk melihat keadaan di sekitarnya. Sesaat ia tempat kebingungan tiba-tiba terdengar suara seruan “Nyai Rangkas jika kau ingin mendapatkan seorang anak dari titisanku maka lakukanlah ritual pertapaan ditengah batu besar itu selama sembilan hari sembilan malam dengan posisi duduk menghadap arah matahari terbit”

Mendengar suara seruan itu Nyai Rangkas merasa semakin yakin dengan tirasat mimpinya, hingga akhirnya iapun duduk ditengh batu besar tersebut dengan posisi menghadap arah matahari terbit.Dengan penuh keyakinan Nyai Rangkas melakukan ritual pertapannya, sementara sama suami yang ia tinggalkan panik dan bingung karena melihat isterinya tidak ada di rumah. Ketika hari mulai terang ia mencari isterinya di sekiling rumah tempat mereka tinggal seraya memanggil “Nya, …. dimana kamu ! Nyai...pulanglah ! sang suami terus memanggil nama isterinya sampai matahari hampir terbenam namun ia tak juga menemukan isteri tercinta. Karena hari sudah mulai gelap ia pun kembali pulang ke rumah meski ia sangat khawatir sekali dengan keadaan isterinya.Malam sudah semakin larut namun Sakajang pun tak mampu memejamkan mata karena memikirkan kemana perginya sang isteri. Ketika melamunkan nasibnya yang sudah ditinggalkan sang isteri tercinta tiba-tiba sekarang teringat akan mimpi isterinya dan keringinannya untuk pergi bertapa mencari keturunan .

Semalaman Sakajang tak bisa tidur dan pagi-pagi ia pergi ke hutan untuk mencari isterinya. Ia menelusuri hutan tepi sungai mandahan namun anehnya ia tidak menemukan tempat seperti yang diceritakan istrinya, meski demikian ia tetap tidak putus asa sampai akhirnya ia berjalan di sebuah rawa dan bertemu dengan seekor serigala yang sangat buas. Meski demikian Sakajang tetap tegar menghadapinya. Langkah demi langkah serigala buas itu mendekati Sekajang dengan cakar dan taringnya yang panjang seolah-olah siap menerkam hingga akhimnya terjadi perkelahian antara Sekajang dan serigala buas itu. Mereka saling bergelut di tanah rawa yang berlumpur.

Dalam perkelahian itu Sakajang terluka dan jatuh terkapar di atas lumpur schingga dengan mudah serigala buas itu menerkamnya kembali dan menancapkan taringnya pada bagian tubuh Sakajang hingga akhirnya tewas dan menjadi santapan serigala yang kelaparan tadi. Alangkah malangnya nasib Sakajang, bertujuan pergi mencari istri tercinta namun di perjalanan menjadi mangsa serigala buas

Hari demi hari berlalu, ritual pertapaan telah dilakukan oleh Nyai Rangkas dengan sempurna, dan ketika ritual itu selesai tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencang, langit tampak bercahaya kemudian terdengar kembali seruan “Nyai Rangkas sekarang kamu telah mendapatkan yang kamu inginkan, tugas kamu adalah memclihara titisanku itu dengan baik karena suatu saat ia akan menjadi pembawa kedamaian bagi sebuah kerajaan yang sedang dalam kekacauan!”

Mendengar suara seruan tersebut Nyai Rangkas merasa semakin yakin kalau ia telah mengandung seorang anak yang dititiskan oleh dewa angin. Karena ritual pertapaan telah selesai maka Nyai Rangkas pun turun dan meninggalkan batu besar itu dengan hati yang berbunga-bunga. Ia kembali menyusuri tepi sungai dan pulang ke rumah dengan harapan memberikan kejutan untuk suami tercintanva

Setibanya di rumah Nyai Rangkas melihat keadaan rumah sunyi sepi dan berantakan, kemudian dia memanggil suaminya, "abang-abang , abang di mana? Nyai membawa berita gembira buat abang, setelah beberapa kali memanggil sang suami, namun tidak ada sahutan. 

Karena suaminya tidak dapat ditemukan, maka nyai rangkas memutuskan untuk kembali ke pondoknya. Pada awalnya Nyai Rangkas berpikir sang suami hanya pergi sebentar ke hutan untuk mencari makanan atau berburu. 

Awalnya nyai rangkas berpikir, suaminya pergi ke hutan untuk berburu, atau mencari makanan, namun lama kelamaan,suaminya yang ditunggu tidak nampak batang hidungnya. Nyai rangkas memutuskan untuk mencari suaminya di sekitar pondok mereka, dia memanggil-manggil, namun tidak ada tanda-tanda suaminya, akhirnya Nyai rangkas memutuskan untuk kembali ke pondok. 

Pada pagi hari nyai rangkas memutuskan untuk mencari suaminya ke hutan, nyai rangkas membawa bekal ala kadarnya saja, diapun masuk ke hutan menelusuri sungai mandahan,  nyai rangkas bertekad tidak akan pulang tanpa suaminya.Dalam perjalanan menyusuri hutan iamelewati rawa-rawa tempat suaminya dimangsa oleh Serigala buas. Tiba-tiba ia melihat keatas,ada seekor burung hitam menjatuhkan kotorannya,Nyai rangkas merasa kejadian tersebut pertanda bahwa hal buruk telah terjadi dan seketika pula perasaannya Nyari Rangkas jalan dan tanpa sengaja kakinya tersandung kayu sehingga ia pun terjatuh, dan tanpa sengaja tangan Nyai Rangkas tertuju pada sebuah gelang dari batu yangvtergeletak di atas tanah, dimana di sekitar gelang tersebut terdapat tulang-tulang bangkai manusia.

Ini seperti milik suamiku, oh dewa apakah yang terjadi pada suamiku” dan kemudian ia berteriak kencang memanggil-manggil suaminya” sekarang ..

Suamiku... dimana kamu sekarang !!!karena tak kuasa menahan rasa sedih tubuh Nyai Rangkas gemetar lalu nyai rangkas jatuh pingsan. Saat ia pingsan tiba-tiba datang seorang nenek menghampiri dan membawa Nyai Rangkas ke sebuah Gua. Yang mana gua tersebut tak jauh dari tempat Nyai Rangkas bertapa untuk memohon diberikan seorang anak. Saat sadar Nyai Rangkas merasa heran dan bingung, dimanakah dirinya berada. Lalu ia duduk, sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tiba-tiba datang seorang nenek tua membawasegelas air untuk Nyai Rangkas serayamengatakan “sebaliknya Nyai minum dulu.

Nyai terlalu banyak bergerak dan tubuh nyai masih sangat lemah ujar sang nenek. 

Nyai Rangkas menjawab "tapi sekarang saya di mana? Dan siapa nenek sebenarnya ujar Nyai Rangkas. Aku adalah nenek yang diutus untuk menjagamu Nyai, jelas sang nenek. 

Aku adalah suruhan dewa angin untuk menjaga bayi yang Nyai kandung sekarang. 

Nyai rangkas masih bingung dengan kejadian-kejadian yang menimpanya sesaat ia tercengang dan teringat akan suaminya, ia merasa menyesal telah meninggalkan suaminya waktu itu.saat Nyai Rangkas merenunginasibnya, nenek tua itu datang kembali menghampirinya membawa makanan untuk Nyai Rangkas. Kemudian nenek itu mengatakan “sudahlah Nyai, jangan terlalu sedih kau memikirkan suamimu. Karena itu sudah menjadi jalan takdirnya. 

Tapi nek, "ucap Nyai rangkas, tapi saya sangat mencintainya, saya tidak bisa hidup tanpa dia, "nenek mengerti dengan perasaan nyai, tapi nyai harus menjaga kandungan dan kesehatan nyai, 

Hari terus berganti, Nyai Rangkas terus

menjalani hidupnya di gua bersama nenek tua yang diutus oleh dewa angin untuk menjaga ia dan bayinya. Hingga akhirnya Nyai Rangkas melahirkan seorang anak laki-laki yang mana anak tersebut ia beri nama Mandangin.Bersama nenek tua itu Nyai rangkas merawat dan menjaga Mandangin hingga Mandangin tumbuh menjadi seorang anak yang tampan dan baik hati. 

Seiring dengan berjalannya waktu

Mandangin tumbuh dewasa. Ia

tampan, kuat, dan baik hati serta suka

menolong siapa saja yang

membutuhkan pertolongannya, selain

itu ia juga sangat berbakti kepada ibunya. Meski memiliki banyak kelebihan mandangin tidak pernah

menyombongkan diri dan ia juga tidak

pernah mengeluh tidak pernah dalam

keadaan serba kekurangan dan tanpa

seorang ayah.

Sampai pada suatu hari ketika ia

berburu di hutan ia melihat ada

sebuah batu besar dan ia merasakan

melepas rasa penasarannya

mandangin naik keatas batu besar itu.tiba-tiba ia mendengar suara seruan yang ia pun tak tahu suara tersebut datang darimana “Mandangin jika kau ingin mendapatkan kekuatan dan

kesaktian, lakukanlah pertapaan di

berburu di hutan ia melihat ada

sebuah batu besar dan ia merasakan

melepas rasa penasarannya

mandangin naik keatas batu besar itu.tiba-tiba ia mendengar suara seruan yang ia pun tak tahu suara tersebut datang darimana “Mandangin jika kau ingin mendapatkan kekuatan dan

kesaktian, lakukanlah pertapaan di atas batu itu selama satu purnama”,Seketika suara itu menghilang, 

Mandangin tercengang sesaat

kemudian ia pergi meninggalkan batu besar itu dan pulang kembali ke gua dengan membawa hasil buruannya.

Namun sepulangnya dari batu besar itu mandangin tidak berbicara satu katapun kepada ibunya. Wajah dan perilakunya tampak seperti orang kebingungan. Melihat kelakuan

Mandanein vang tidak sama seperti

mengampiri Mandangin dan bertanya

“ada apakah gerangan yang terjadi denganmu anakku ? sepertinya kamu sedang bingung”

Mendengar pertanyaan ibunya

Mandanginpun menceritakan tentang

kejadian yang ia alami saat pergi

berburu. Mendengar cerita anaknya Nyai Rangkas terdiam. Ia bertanya dalam hati “apakah suara itu adalah suara dewa angin'.Tapiia mencoba mengalihkan perhatian anaknya

dengan mengatakan “mungkin itu hanya halusinasimu saja anakku”Mandangin menjawab mungkin juga

ibu”! ia mengiyakan perkataan ibunya

meski ia merasa yakin kejadian itu nyata.

Malam semakin larut dan ke adaan

sunyi senyap Nyai Rangkas tak bisa

Malam semakin larut dan ke adaan sunyi senyap Nyai Rangkas tak bisa tidur karena ia terus memikirkan tentang cerita anaknya. Melihat Nyai Rangkas tidak bisa tidur nenek Kiap menghampirinya dan bertanya

“apakah gerangan yang kau pikirkan Nyai ? sampai-sampai kau tak bisa tidur” mendengar pertanyaan nenek Kiap Nyai Rangkas langsung

menceritakan kejadian yang dialami

oleh Mandangin ketika pergi berburu.

Mendengar cerita itu nenek Kiap berkata kepada Nyai Rangkas “Nyai mungkin sekarang sudah waktunya

Nyai membiarkan Mandangin untuk

pergi mengembara dan menjalankan

takdirnya sebagai pembela

kebenaran”. Kemudian Nyai Rangkas bertanya pada nenek Kiap. “Lalu apa yang harus saya lakukan untuk

Mandangin Ne” nenek Kiap menjawab

Mandangin dan kau suruh dia pergi mengembara untuk menegakkan kebenaran. Namun sebelum pergi suruh dia bertapa terlebih dahulu selama satu purnama di batu besar seperti yang telah diserukan oleh dewa angin kepadanya.

Malam berganti pagi Nyai Rangkas

sibuk menyiapkan bekal untuk

Mandangin pergi mengembara. Ketik matahari naik dari ufuk timur Nyai Rangkas menghampiri Mandangin yang baru saja selesai makan. Ia

berkata “wahai anakku sekarang kau sudah menjalankan takdirmu. Namun sebelu kau pergi mengembara kau pergi lakukanlah ritual pertapaan

seperti yang telah diserukan oleh dewa

angin kepadamu agar kamu

mendapatkan kesaktian sebagai bekal

melindungi diri dan membela

kebenaran”.Mandangin menjawab

Tapi bagaimana dengan ibu? Saya tidak tega meninggalkan ibu di sini!?.Mendengar pertanyaan anaknya dengan berat hati Nyai Rangkas

mengatakan” sudahlah anakku, jangan kau pikirkan keadaan ibu suatu saat kau pasti akan bertemu lagi dengan

iq!

Dengan berat hati pagi itu Nyai

Rangkas melepaskan kepergian

anaknya tercinta dan mandangin pun

pergi meninggalkan gua yang menjadi

tempat berteduh selama dalam asuhan

ibunya.Dalam perjalanannya

menyusuri hutan menuju tempat

pertapan tanpa sengaja ia melihat

seorang perempuan cantik turun

mandi di sungai Mandahan. Walaupun demikian Mandangin tetap berjalan menuju tempat pertapaan setibanya di atas batu besar ia langsung melakukan pertapaan. Hari demi hari berlalu. 


hingga satu purnama pun terlewati.

Ketika ritual pertapaan selesai tiba-tiba

terdengar suara petir seolah-olah memecah bumi kemudian diiringi dengan angin yang bertiup sangat kencang dan dahsyat pertanda

kesaktian telah diperoleh Mandangin.

Sebelum Mandangin meninggalkan

pertapaan terdengar suara seruan “Hai Mandangin hari ini telah aku turunkan kesaktianku padamu, gunakanlah

kesaktian itu untuk membela

kebenaran". Sesaat setelah suara

seruan hilang Mandangin pergi dan

meninggalkan tempat pertapan dan

memulai perjalanannya untuk

mengembara. Ia terus berjalan

menyusuri hutan tepi sungai


Mandahan hingga akhimnya ia masuk ke sebuah kampung yang bernama Perek Rango. Kampung itu dikuasai oleh seorang penguasa yang bernama Tuman ia sangat jahat dan kejam serta suka menindas lain.

Di kampung itu tidak ada lagi

kedamaian semua penduduk tampak

ketakutan ketika melihat Tuman dan

gerombolannya. Meski demikian

Mandangin tetap berjalan menyusri

kampung untuk mencari tempat

peristirahatan. Ketika sedang duduk melepas lelah di sebuah pondok kecil, tiba-tiba mandangin melihat seorang gadis berjalan melintasi di

hadapannya. Yang mana perempuan

itu adalah istri dari Tuman sang

penguasa yang kejam. Sesat

Mandangin tercengang dan merasa

wajah perempuan itu tak asing lagi.

Dan ternyata perempuan itu adalah

Sungai Mandahan ketika ia hendak

pergi bertapa.....

Angin bertiup sepoi-sepoi udara menjadi semakin sejuk menambah kenikmatan suasana pada sore itu.

belum puas melihat suasana tiba-tiba

datang gerombolan Tuman yang

tampak beringas dan kejam dengan

menyeret beberapa warga dan

menggotong tiga orang perempuan

desa.

Meski sampbil teriak mereka tampak

tak berdaya melawan kekuasaan

gerombolan tersebut. Melihat keadaan itu Mandangin langsung berdiri dan menghampiri gerombolan itu seraya mengatakan “salah seorang dari

gerombolan itu menjawab “Siapa

kamu berani-beraninya kamu

menantang kami”! Mandangin

gerombolan itu marah dan

menghadang Mandangin dengan

mandau. Namun Mandangin tidak takut meski ia punya senjata hingga akhirnya perkelahianpun terjadi.

Mandangin menghantam gerombolan

itu dengan jurus-jurusnya hingga

sebagian jatuh terkapar dan terluka

karena merasa tak mampu melawan

mandangin gerombolan itu pergi dan

melaporkan kejadian itu kepada

penguasa kampung yaitu si Tuman.

Mendengar cerita itu Tuman marah

dan mengambil senjata pusakanya

kemudian mencari Mandangin yang

berani menantang kekuasaannya

dengan diikuti oleh beberapa

gerombolannya. Sampai akhirnya ia menemukan Mandangin di sebuah rumah makan.

menghadang Mandangin dengan

senjata pusakanya. Namun Mandangin tidak menanggapinya hingga akhirnya Tuman memukulnya dan iapun

menghela untuk membela diri. Dengan

beringas Tuman terus memukul

Mandangin. Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Toman Mandangin melakukan perlawanan dan

perkalahian terjadi dengan sangat

sengit.

Mereka saling adu kekuatan sihir

hingga akhirnya Tuman kehabisan

energi karena terkena pukulan maut Mandangin. Ketika Tuman tak berdaya tiba-tiba datang seorang perempuan menikamnya dari belakang dengan menggunakan sebuah belati. Dan

ternyata perempuan itu adalah korban keserakahan dan nafsu birahi Tuman.

Saat melihat waiah perempuan itu


Mandangin teringat kembali dengan

perempuan yang ia lihat turun mandi di Sungai Mandahan. Namun ia tetap tak menyapanya. Ia hanya mampu

memandang dari kejauhan.

Melihat Tuman sudah mati masyarakat

beramai-ramai menghampiri

Mandangin, mereka mengucapkan

terimakasih karena Mandangin

mampu mengalahkan Toman dan

membebaskan mereka dari

cengkraman dan kekuasaan sebagai

ucapan terimakasih masyarakat

bersepakat mengangkat Mandangin

untuk menjadi pemimpin dan

pelindung mereka dari kejahatan.

Karena sebagian besar masyarakat

penghuni wilayah Perek Ranggo

memintanya memintanya memimpin

daerah itu maka Mandangin tak

mampu menolaknya hingga akhirnya

 menjadi pemimpin wilayah Perek

Rango yang arif dan bijaksana sesuai

dengan harapan ibunya tercinta.

Semenjak dipimpin oleh Mandangin

daerah Perek Rango menjadi daerah yang aman dan penuh kedamaian yang semua itu dapat dilihat dari wajah-wajah penduduk yang memancarkan keceriaan dan kebahagiaan.

Setiap hari Mandangin selalu teringat

dengan wajah perempuan cantik yang

ia lihat turun mandi di Sungai

Mandahan. Untuk menghapus rasa

penasarannya terhadap perempuan itu

ia datang ke rumah perempuan itu dan

mengambil perempuan itu untuk

menjadi isterinya. Karena Mandangin, adalah seorang pria yang tampan dan bijaksana sehingga tak ada perempuan yang mampu menolak lamarannya.

Akhirnya Mandangin dan perempuan

itu menikah dan membina rumah

tangga yang bahagia bersama

keturunannya.

Daerah Perek Rango selalu dikuasai

oleh keturunan Mandangin secara

turun temurun dan daerah itu selalu

dalam keadaan damai hingga

sekarang.

Konon katanya jika kita ingin melihat

daerah itu harus melakukan pertapaan

di sebuah batu besar tempat pertapaan

Nyai Rangkas dan Mandangin. ***

Isen Mulang Petehku




Komentar

  1. Coba dipadatkan Maksim jadi 750 kata atau sama dengan dua kisah sebelumnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

DUKUH MANGGANA DAN IKAN TAMPAHAS THE LEGEND OF SERUYAN RIVER