Jodoh pilihan orang tua

Bagian I. Pembahasan Skripsi

Senin yang panas membara, sepanas hati Salma saat itu. Ketika masuk ke ruang dosen pembimbing, untuk menyelesaikan studi akhirnya. Dosen pembimbing yang killer membuatnya, agak sedikit hilang semangat. 
"Salma, " tolong ini diperbaiki ya, jangan terlalu pemborosan kata. 
"Baik , " pak ucap Salma, "kapan saya konsultasi terakhir? "tanya Rani. Saya harus selesaikan tahun ini S1 nya pak Anton.
" Baiklah Salma, "jawab pak Anton. 
Salma, keluar dari ruang dosen pembimbingnya, harusnya sudah terakhir hari ini. Namun Salma masih melakukan revisi kembali, ada sedikit coretan di Skripsi Salma. 
Kenapa pak Anton kayanya mempersulitku, "gumam Salma dalam hati. Salmapun mencoba bertanya dengan teman-teman.
" Salma, hei panggil, "Dinda, kemarin kau di antar Predy ke rumah pak Anton, saat konsultasi kedua. Hmmm, " Yaa, betul, nah itu dia neng, "ujar Dinda sahabat karibnya. 
" Lo, "emangnya kenapa?
" Pak Anton, "don,t like, kita boncengan ama cowok/meski itu teman satu kampus, " ujar Dinda. 
"Haa, " ko'aku nggak tau, kemarin emang aku diantar sama pacar aku, "ujar Salma. 
" Nah, "Pak Anton paling benci tuh, mahasiswinya kek gitu, " ujar Dinda sambil menyeruput es kopyor. 
"Loe kaga bilang ke gua, " ujar Salma. Gua mana tau kek gitu jadinya. Wkwkwk, "ucap Salma sambil tersenyum. 
" Udahlah, "tinggal selangkah lagi, " ujar Salma. 
"Eh, Ran, " ujar Dinda, "Pak Anton mau kuliah S2, katanya sih, minggu depan dia mau go out. 
" Oh gitu, "sahut Salma, kemungkinan minggu ini terakhir aku dibimbing. 
Semoga tahun ini aku bisa selesai, dan wisuda, kasian mama, "ujar Salma. 
" Oke, "semangat cantik, " ujar Dinda. 
Dinda sahabat yang selalu buat Salma, di manapun dan kapanpun dia butuhkan. 
Senin kedua bulan Agustus, terakhir penyelesaian, konsultasi Skripsi. "Alhamdulillah, " ucap Salma, akhirnya selesai juga. Tinggal satu dosen penggampu aku lagi nih. Semoga tidak dipersulit ya Allah. 
Salma memang mahasiswi, yang lumayan jenius juga, karena faktor ekonomi, dia tidak bisa berleha-leha.siang itu Rani, kembali berkonsultasi skripsi akhir, dengan dosen penggampu. Bu Rina, "kapan saya bisa maju ujian skripsi, " tanya Salma?.
 Kemungkinan minggu depan, "ujar bu Rina. Salma keluar dari ruangan bu Rina dengan hati bahagia. Akhirnya penantian yang sekian bulan, akan berakhir di meja sidang skripsi. 
 
BAB II : Surat yang Mengubah Takdir
 
"Raka, Ibu sudah menemukan calon istri yang baik untukmu."ujar sang mama. Dia gadis cantik, tetapi saat ini masih mau menyelesaikan skripsi. Setelah dia selesai kuliah ibu berniat untuk melamarnya untukmu, " ujar sang mama 
 
Kalimat itu terlontar santai dari mulut Ibu saat makan malam, namun bagi Raka, itu terdengar seperti ledakan bom. Usianya baru dua puluh lima tahun, karir baru mulai menanjak, dan di hatinya masih tersisa bayang-bayang seseorang yang pernah ia cintai namun harus berpisah karena keadaan.
 
"Bu, Raka belum siap. Lagipula, kan jaman sekarang cari pasangan itu harus sama-sama cocok, harus saling kenal dulu," bantah Raka pelan, berusaha menahan gejolak di dada.
 
Ayah yang sedari awal diam, akhirnya bersuara dengan nada tegas namun lembut, "Nak, orang tua tidak akan pernah menyarankan yang buruk untuk anaknya. Kami melihat gadis ini dari jauh. Agamanya baik, keluarganya terhormat, dan budi pekertinya luar biasa. Kami hanya memintamu untuk bertemu dulu. Jika memang tidak ada kecocokan di hati, Ayah tidak akan memaksamu."
 
Raka menatap kedua orang tuanya. Ia tahu, mereka melakukan ini karena sayang. Namun rasanya berat sekali menerima kenyataan bahwa masa depannya seolah sudah ditentukan oleh orang lain. Dengan berat hati, Raka mengangguk. "Baiklah, Raka akan bertemu dengannya."
 
BAB II: Pertemuan yang Kaku
 
Hari pertemuan itu tiba. Namanya Salma. Gadis itu datang dengan menunduk, memakai busana yang sopan, dan senyum yang sangat tipis. Suaranya lembut saat memperkenalkan diri.
 
Sepanjang obrolan, Raka merasa canggung. Ia melihat Salma hanya sebagai gadis yang taat pada orang tua, sama sepertinya. Tidak ada bunga-bunga cinta, tidak ada debaran jantung yang berpacu cepat seperti saat ia bersama mantan kekasihnya dulu. Yang ada hanyalah formalitas dan rasa sungkan.
 
"Dia baik, tapi mungkin bukan tipeku," batin Raka.
 
Di pertemuan berikutnya, Raka mencoba bersikap dingin. Ia berharap Salma akan merasa illfeel dan membatalkan sendiri hubungan ini. Namun Salma tidak marah. Gadis itu justru menerima segala sikap Raka dengan lapang dada.
 
"Kak Raka tidak perlu memaksakan diri kalau tidak suka sama saya," kata Salma suatu hari dengan tenang. "Saya juga awalnya kaget dilamar orang yang belum saya kenal. Tapi orang tua saya bilang, cinta bisa tumbuh belakangan asalkan ada rasa hormat dan tanggung jawab."
 
Kata-kata Salma membuat Raka terdiam. Gadis ini ternyata memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa darinya.
 
BAB 3: Di Balik Senyuman yang Tersimpan
 
Hari demi hari berlalu. Raka mulai melihat sisi lain dari Salma. Ia melihat bagaimana Salma sangat menghormati Ibunya, bagaimana Salma rajin beribadah, dan bagaimana gadis itu selalu ada saat keluarga Raka membutuhkan bantuan.
 
Suatu malam, Raka jatuh sakit demam tinggi. Orang tuanya sedang keluar kota. Raka mengira ia akan terbaring lemah sendirian. Ternyata, Salma datang tanpa diminta. Gadis itu merawatnya, menyiapkan makan, memandikannya dengan air hangat, dan menemaninya beristirahat.
 
"Kenapa kamu repot-repot kesini?" tanya Raka lemah.
 
Salma tersenyum, kali ini senyum yang lebih tulus dan hangat. "Karena meski kita belum menikah, Kakak sudah dianggap seperti keluarga bagi saya. Dan sebagai calon istri, sudah kewajiban saya menjaga calon suami."
 
Saat itulah tembok tinggi di hati Raka mulai runtuh. Ia sadar, cinta yang dibangun atas dasar restu dan tanggung jawab itu rasanya berbeda. Lebih tenang, lebih damai, dan tidak meledak-ledak tapi membara abadi. Ia mulai menyadari bahwa orang tuanya benar. Salma adalah wanita yang luar biasa.
 
BAB 4: Cinta yang Tumbuh di Akhir Janji
 
Hari pernikahan pun tiba. Di hadapan semua orang, Raka mengucapkan ijab kabul dengan penuh keyakinan. Bukan karena paksaan, tapi karena ia siap menerima amanah ini.
 
Saat resepsi, di tengah keramaian, Raka menggenggam tangan Salma yang halus.
 
"Maaf ya, Salma. Dulu aku sempat menolak pernikahan ini. Aku pikir aku tidak bisa mencintaimu karena kita tidak berpacaran dulu," bisik Raka.
 
Salma menatap mata suaminya, matanya berbinar bahagia. "Tidak apa-apa, Kak. Banyak jalan menuju cinta. Kalau orang lain mencintai lalu menikah, kita menikah lalu belajar mencintai. Dan aku yakin, cinta kita akan lebih kuat karena didasari oleh ridha orang tua dan Allah."
 
Raka tersenyum lebar. Ia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang duduk di pelaminan, wajah mereka penuh kebanggaan dan air mata bahagia.
 
Raka kini mengerti. Jodoh pilihan orang tua bukanlah sebuah paksaan, melainkan sebuah hadiah terindah yang Tuhan kirimkan melalui perantara orang-orang yang paling menyayangi kita.
 
Cinta memang bisa diajarkan, bisa tumbuh, dan bisa membumi. Dan Raka bersyukur, pilihannya kini adalah Salma, wanita yang menjadi takdir terbaik dalam hidupnya.
 
 
 
TAMAT
 
 
 Premis,Jodoh pilihan orang tua, menceritakan tentang perjodohan antara Salma dan Raka. Mereka memiliki orang lain di hati mereka masing-masing. Salma seorang mahasiswi akhir semester, yang hampir menyelesaikan skripsinya. Raka seorang pemuda yang juga memiliki orang yang pernah dia cintai. Raka bercita-cita untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pengusaha. 

Singkatnya:Cinta mereka akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Walaupun awal nya dipaksakan. 
Sinopsis:
Raka adalah pemuda berusia 25 tahun yang
karirnya mulai menanjak dan masih
menyimpan kenangan tentang cinta masa lalu. Hidupnya berubah drastis saat orang tuanya tiba-tiba menyodorkan calon istri bernama Salma, gadis berakhlak baik yang dipilih karena dianggap cocok secara agama dan keluarga.walapun dari keluarga sederhana. 
Raka menolak keras. Baginya, jaman
sekarang pasangan harus dipilih sendiri dan
saling mengenal dulu. Namun, bujukan lembut namun tegas dari ayah dan ibunya membuatnya akhirnya setuju untuk
bertemu. Pertemuan pertama terasa kaku dan dingin. Raka bahkan berusaha bersikap acuh tak acuh agar Salma mundur sendiri.Namun, Salma bukanlah gadis yang mudah
menyerah. Dengan ketenangan dan
kedewasaannya, ia menerima keadaan dan
mengajak Raka untuk saling mengenal tanpa paksaan. Perlahan, Raka mulai melihat sisi luar biasa dari Salma:
ketulusannya, kesabarannya, dan
bagaimana ia selalu menjadi pendengar yang baik serta penolong bagi orang lain.Saat Raka jatuh sakit dan orang tuanya tidak ada di rumah, Salma datang tanpa diminta dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Saat itulah tembok di hati Raka mulai runtuh. la sadar bahwa orang tuanya tidak salah memilih. Salma adalah wanita yang pantas dihargai dan dicintai.Perjalanan mereka berlanjut hingga ke
pelaminan. Bukan lagi karena paksaan, tapi karena kesadaran dan keyakinan bahwa ini adalah takdir terbaik. Mereka membuktikan bahwa pernikahan yang didasari restu orang tua dan niat baik mampu melahirkan cinta yang jauh lebih kuat, tenang, dan abadi.
Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah
pilihan orang tua ternyata menjadi hadiah
terindah yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi kebahagiaan masa depannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

Sebelum tulisan dipublikasikan kita proofreading,