Anak Durhaka dari desa Tumbang Setawai(asal mula batu menangis)

 Ayu, berjalan berlenggak-lenggok di depan cermin, ia memuji kecantikannya, Ayu adalah gadis paling cantik di Desa Tumbang Serawai. Ibunya yang tua renta, yang selalu menuruti keinginannya.

Ayu anak pemalas, tidak mau membantu ibunya yang sudah tua.Ibunya setiap hari berjualan sayur di pasar Tumbang Setawai. Untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. 

Janda tua, setiap hari mencari sayur mayur, untuk dijual kepada penduduk. 

"Mama, "bentak Yuni, belikan aku bedak. Berangkatlah wanita tua ke pasar, dan membelikan Sang anak bedak yang diinginkan. 

Karena sudah mulai tua,wanita itupun tergopoh-gopoh, ini Ayu, " bedak yang kamu mau. Wanita tua itu memberikan kepada Ayu. Ayu menerima bedak tanpa mengucapkan terimakasih. 

Wanita tua itu hanya bisa mengurut dada. Ayu si gadis pemalas, hanya bersolek saja, tidak mau membantu ibunya. 

Suatu hari di desa diadakan kenduri, Ayu ingin berpenampilan lebih cantik daripada gadis-gadis. Ayu meminta ibunya untuk membelikannya baju yang paling bagus dan aksesoris yang paling mahal. 

Dengan lembut ibunya berkata, Ayu, "bunda tida punya uang, uang yang ada untuk biaya hidup kita, baju yang lama masih bisa dipakai. Ayu tetap kelihatan cantik, walaupun tidak pakai baju mahal, " hibur wanita tua itu. 

Ayu, tetap ngotot dengan keinginannya, dia membanting sisir yang dia pegang ke lantai. Bunda cari, "gimana caranya," Ayu membentak ibunya. Ibunya menangis sambil mengusap dadanya. "Oh Ranying Hatala langit, tolong ampuni hamba, beri hamba kesabaran dalam menjalani ujian ini. " Berikan kesadaran pada putri hamba. 

Dengan hati yang sedih, nek Surti pun berangkat ke pasar, untuk membeli pakaian dan perhiasan yang diinginkan putrinya. Ayu gadis sombong dan durhaka, tidak peduli dengan yang terjadi dengan hati ibunya. Dia tidak menyadari, betapa dia telah melukai orang yang melahirkannya. 

Datanglah bu Surti membawa yang diinginkan Ayu. Melihat bu Surti datang, Ayu merampas bungkusan ditangan bu Surti. Ayo ibu, "ucap Ayu, cepat persiapkan diri ibu, kita mau ke kenduri, tetangga sebelah. 

Ayu berdandan dengan cantik, sangat cantik, tapi sayang, ahklaknya tidak secantik wajahnya.Ayu dan bu Surti pun berangkat ke pesta, di desanya. 

Ibu, " ucap Ayu," ibu jangan jalan bersamaan dengan Ayu, ibu di belakang Ayu saja, soalnya ibu sudah tua dan keriput, sepertinya tidak cocok jalan bersama. 

Bu Surti terdiam, hatinya teriris, oleh luka ucapan sang putri yang sangat dia sayangi. "Tuhan, mohon ampuni hamba, seandainya lidah yang hamba miliki, terlanjur mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, "batin bu Surti. 

Mereka berjalan, tanpa beriringan. Semua mata mengagumi kecantikan Ayu, bunga desa Tumbang Setawai.Mereka bertanya kepada Ayu, " Ayu siapa perempuan tua yang ada di belakangmu. 

"Ayu menjawab, " Oh dia, dia, "ucap Ayu terbata-bata, nampaknya Ayu malu mengakui bu Surti sebagai ibunya. Dia hanyalah pembantuku, " ucap Ayu kesal. Tak ada penyesalan di hati Ayu, mengatakan bahwa ibu yang melahirkannya adalah pembantunya. 

Bu Surti terperangah, mendengar ucapan Ayu. Mulut bu Surti ternganga, seolah-olah tak percaya dengan ucapan anaknya. Anak yang selama ini dia manjakan, anak yang dia sayangi. Ternyata malu punya ibu yang sudah tua seperti dia. 

Bu Surti merasa terluka, menangis, dan tiba-tiba saja bu Surti mengangkat kedua tangannya, dengan hati yang terluka, bu Surti berucap, "Ayu kau anak durhaka, kubesarkan kau dengan air susuku, kukasihi tanpa batas. Maafkan ibumu Ayu, "ucap bu Surti. 

Dengan mengangkat kedua tangannya, " Oh Ranying Hatala langit "kutuklah anakku ini menjadi batu menangis. Aku sudah tidak sanggup lagi, menahan rasa kecewa dan sakit hati. 

Baru saja Ayu mau melangkah, namun kakinya terasa berat, bersamaan dengan itu pula,tiba-tiba langit hitam kelam, hujan badai turun, diikuti petir menggelegar. Tiba-tiba saja tubuh Ayu menjadi kaku,dan tidak bisa digerakkan. Ayu menyadari kesalahannya, namun nasi sudah menjadi bubur. Tubuhnya yang kaku, dan matanya menangis tanpa henti. Bu Surti menyesal dengan ucapan yang sudah keluar dari mulutnya. 

Ayu, "ucap bu Surti, maafkan ibu nak. Bu Surti menangis sambil memeluk Ayu yang sudah menjadi batu dan airmata yang tak berhenti keluar dari mata Ayu si batu menangis. 

Penyesalan tidak pernah terjadi diawal, tetapi selalu datang diakhir. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALI POTENSI UKIR PRESTASI

Sebelum tulisan dipublikasikan kita proofreading,