Tersesat di Hutan Kariau(lengenda batu bawui)

 Suasana sungai pagi itu sangatlah ramai. Sungai Kahayan yang begitu menawan, menambah keindahan pagi itu. Air sungai yang dingin, tidak menyurutkan pemuda itu, untuk mandi dan menceburkan diri ke air sungai Kahayan. 

Terdapatlah seorang pemuda yang bernama Hendun. Mereka tinggal di sebuah rumah betang, dengan halaman yang penuh dengan bunga-bunga yang asri. Hendun tinggal bersama kedua orang tuanya, yang sangat ia cintai dan sayangi. 

Hendun yang baik hati, gagah dan berani. Dia selalu membantu kedua orang tuanya. Hendun menemani sang ayah bekerja. 

"Ayahanda, " panggil Hendun. 

"Ya Hendun, " sahut sang ayah, sambil menepuk bahu Hendun, anak kesayangannya. Ayo kita berburu Ayah, "ajak Hendun, sudah sekian lama kita tidak pernah berburu. 

Keesokan harinya, berangkatlah berdua bapak beranak, mereka berdua membawa bekal yang telah disiapkan sang ibu Hendun. 

Hendun sangat senang, dia membayangkan betapa asyiknya, keluar masuk hutan, sambil bersiul dan bernyanyi. Hendun bahagia sekali. 

Setelah berpamitan dengan sang istri, ayahnya dan Hendun berangkat menuju hutan. Hendun dan ayahnya membawa bekal, dan peralatan berburu. 

"Ibunda, " ujar Hendun, "do'akan aku dan ayah ya, " sambil mencium tangan ibunya. Setelah mereka berjalan begitu lama, mereka sudah jauh dari rumahnya. Ayah Hendun mengajak Hendun berburu di hutan Kariau, di sekitar bukit Bantilung. 

Hutan yang terkenal dengan kehidupan mistik. Hutan tersebut memang banyak pelanduk dan hewan lainnya. 

Sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah, mereka berdua istirahat sebentar, untuk melepaskan lelah. 

"Nikmat sekali makanan buatan ibu, " ucap Hendun. 

"Makanlah yang banyak Hendun," ujar sang ayah. Biar kamu bertambah kuat. "Biar kita banyak dapat buruan. " ujar sang ayah. Sembari bersenda gurau, ayah dan anak itupun menikmati makanan bekal mereka. 

Hendun nampak bahagia sekali, bisa menikmati keindahan hutan belantara. Merekapun melanjutkan perjalanan. "Hmm, " settt, "perlahan ayah, " ucap Hendun pelan. Di sana ada sekawanan Rusa. 

Ayahnya pun mengacungkan jempol, sambil memberi isyarat agar Hendun melepaskan anak panahnya. Namun sangat disayangkan, tak satupun panah yang lepaskan mengenai gerombolan Rusa itu. 

Hendun tetap bahagia, terus menyusuri hutan Kariau, dia melihat seekor pelanduk. Hendun meminta kepada sang Pencipta, agar bidikannya hari ini tidak lepas. "Seet, anak panahpun melesat tepat mengenai pelanduk tersebut. 

Setelah dirasa cukup, kedua bapak dan anak itupun kembali ke rumah. Mereka tiba di rumah hampir senja. 

Hati berganti hari, minggu berganti minggu. Persediaan makanan mereka bertiga habis. Hendun pun berniat untuk berburu kembali. Namun kali ini,Hendun ingin berburu seorang diri. 

Hendun menyampaikan niatnya kepada kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya memberikan ijin kepada Hendun. Setelah ibunya mempersiapkan bekal untuk Hendun. Pamitlah Hendun kepada kedua ayah dan ibunya. "Ayah, " Ibu, "ujat Hendun, " doakanlah anakmu, "agar bisa memperoleh buruan yang banyak. 

Hendun pun, berangkat dengan hati gembira, dia bersiul dan bernyanyi. "aku harus buktikan kepada ayah, " ujar Hendun, kalau aku bisa menangkap buruannya. 



Komentar